daerah

Kebun Raya Mangrove Surabaya: Potensi Besar, Pengelolaan Setengah Hati

Senin, 22 Desember 2025 | 11:37 WIB

NAWACITAPOST.COM – Menjelang libur akhir tahun 2025, wisata mangrove di Surabaya seharusnya menjadi primadona destinasi wisata keluarga. Dengan tiga lokasi utama yakni Kebun Raya Mangrove Surabaya Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah yang diresmikan sebagai Kebun Raya Mangrove Surabaya sejak Juli 2023.

Pengunjung untuk dapat masuk Kebun Raya Mangrove perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp15.000 untuk tiket orang dewasa dan gratis untuk anak-anak, tak lupa parkir sepeda motor Rp5000 dan mobil Rp10.000. Namun, jika ingin naik perahu untuk menyusuri hutan bakau sampai tujuan spot foto ekowisata mangrove harus membayar tiket lagi sebesar Rp25.000 untuk orang dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak, berlaku pulang-pergi (PP).

Kawasan seluas 34 hektar ini diklaim sebagai satu-satunya kebun raya mangrove di Indonesia. Namun, di balik klaim kebanggaan tersebut, realitas di lapangan justru menunjukkan pengelolaan yang jauh dari optimal.

Infrastruktur: Janji yang Belum Terwujud

Salah satu masalah krusial yang kerap dikeluhkan pengunjung adalah minimnya akses transportasi umum menuju kawasan wisata mangrove. Lokasi yang tersebar di Wonorejo, Gunung Anyar, dan Medokan Sawah memaksa pengunjung untuk mengandalkan kendaraan pribadi atau transportasi online.

"Selama perjalanan tidak ada penunjuk arah, hanya penunjuk arah bozem Wonorejo yang saya lihat. Ya tanya orang-orang sambil nge-maps khawatir kesasar," ungkap Maria seorang pengunjung perempuan bersama keluarganya mengendarai sepeda motor matic ini.

Kebun Raya Mangrove yang baru saja diresmikan dua tahun lalu tersebut, tidak ada jalur angkutan umum yang memadai, membuat wisata yang seharusnya inklusif justru eksklusif bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan.

Penelitian yang dilakukan pada 2020 oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya mengidentifikasi beberapa faktor penghambat pengembangan ekowisata mangrove, di antaranya:

  • Tidak adanya transportasi umum yang terjangkau menuju lokasi
  • Kurangnya koordinasi antar instansi terkait fasilitas dan papan penunjuk lokasi.
  • Pengembangan Lingkungan Sekitar yang Belum Optimal

Lima tahun kemudian, di penghujung 2025, mayoritas masalah ini masih belum terselesaikan. Strategi pengembangan yang disusun tahun 2025 pun terkesan hanya di atas kertas: konsep natural resources, perluasan jogging track, dan sentra wisata kuliner masih jauh dari harapan. Arya juga menyampaikan hal yang sama.

"Sentra kulinernya hanya tulisannya saja, tadi haus rencananya mau beli minum eh sepi. Hanya tinggal lapak dan meja kursinya saja. Next kalau kesini harus bawa bekal mas, itupun kalau kesini lagi jika seperti ini kondisinya," jlentreh pengunjung yang bersama pasangannya ini sambil tersenyum kecut.

Fasilitas yang ada saat ini masih berkutat pada hal-hal mendasar seperti toilet umum, musala sederhana, dan area parkir seadanya.

Konservasi vs Ekonomi: Konflik yang Tak Kunjung Usai

Di balik keindahan hutan bakau yang disulap menjadi wisata, tersimpan konflik laten antara kepentingan konservasi dan ekonomi. Data dari Universitas Airlangga mengungkapkan bahwa sekitar 40% atau 400 hektar hutan bakau di kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) masih dalam kondisi rusak. Garis pantai bakau yang dahulu mencapai 29,8 km kini hanya tersisa 8,7 km dengan ketebalan tidak lebih dari 50 meter. Bandingkan dengan kondisi tahun 1990-an, di mana ketebalan hutan bakau bisa lebih dari 50 meter.

Salah satu penyebab kerusakan adalah konversi lahan mangrove menjadi tambak akuakultur oleh masyarakat yang telah memiliki lahan sejak lama. Konflik kepemilikan lahan antara pemerintah daerah dan masyarakat ini belum menemukan titik temu yang adil. Pemerintah menuntut konservasi, namun enggan memberikan kompensasi yang layak atas hilangnya mata pencaharian warga.

Ironisnya, di tengah gencarnya promosi wisata mangrove, tingkat keberhasilan penanaman bakau masih rendah. Data BRIN dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya mencatat 5-10% tanaman bakau yang ditanam justru mati akibat waktu tanam yang tidak tepat, jenis tanaman yang tidak sesuai lokasi, dan yang paling memprihatinkan: sampah plastik yang menutup akar sehingga menghambat pertumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan konservasi masih jauh dari profesional.

Visi Tanpa Terobosan: Kritik Terhadap Pemkot

Kritik tajam datang dari Fraksi Gerindra DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, yang menilai sektor pariwisata Kota Surabaya, termasuk wisata mangrove, "berjalan di tempat tanpa terobosan berarti" di tengah tekanan fiskal yang semakin berat. Dalam konteks Kebun Binatang Surabaya yang hingga kini belum memiliki direktur utama definitif, Yona mengkritik keras pola pengelolaan setengah hati yang juga terlihat di berbagai aset wisata lainnya.

Halaman:

Tags

Terkini