Minggu, 19 Juli 2026

Stop Gadget Saja Tak Cukup! DPRD Minta Edukasi Digital Dikuatkan

Photo Author
Elya Yuddy Irawan, Nawacita Post
- Jumat, 17 April 2026 | 00:33 WIB
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ais Shafiyah Asfar atau Ning Ais
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ais Shafiyah Asfar atau Ning Ais

NAWACITAPOST.COMDPRD Surabaya angkat suara soal pembatasan gadget pada anak. Kebijakan ini didukung, namun ditekankan tak boleh sekadar larangan tanpa pendekatan edukatif.

Pemkot Surabaya sebelumnya meluncurkan “Gerakan Surabaya Tanpa Gawai” dengan aturan bebas gadget pukul 18.00–20.00 WIB sebagai upaya menekan risiko digital pada anak.

Langkah ini dinilai progresif. Selain pengaturan waktu, kebijakan juga mencakup pembatasan akses sesuai usia serta penguatan peran orang tua dalam pengawasan penggunaan gadget.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ais Shafiyah Asfar atau Ning Ais, menilai kebijakan ini harus diterapkan secara bijak dan tidak kaku agar tidak menimbulkan dampak balik.

“Ini langkah yang baik dan relevan dengan kondisi saat ini. Tapi pembatasan saja tidak cukup, harus dibarengi edukasi,” tegas Ning Ais, Kamis (16/4/2026).

Ia menekankan, literasi digital menjadi kunci penting. Anak-anak perlu dibekali pemahaman agar mampu menggunakan teknologi secara sehat, bukan sekadar dibatasi.

Menurutnya, pendekatan represif justru berisiko memicu penolakan. Karena itu, kebijakan harus bergeser dari sekadar pembatasan menuju pemberdayaan anak.

Penguatan literasi digital di sekolah juga dinilai mendesak. Institusi pendidikan harus jadi pusat pembelajaran teknologi yang aman, didukung keterlibatan aktif orang tua.

“Kalau hanya membatasi tanpa alternatif, yang muncul justru resistensi. Anak perlu ruang pengganti yang sehat,” ujar politisi yang akrab disapa Ning Ais itu.

Ia menyarankan alternatif kegiatan seperti olahraga, seni, hingga aktivitas komunitas agar anak tetap produktif tanpa ketergantungan pada gadget.

Selain itu, DPRD juga menyoroti pentingnya pengawasan dan evaluasi berkala. Kebijakan harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas dan terukur.

“Ini bukan hanya soal membatasi akses. Tapi bagaimana kita membentuk generasi yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab,” tandasnya.

DPRD berharap kebijakan ini jadi strategi jangka panjang. Tak hanya melindungi anak dari risiko digital, tapi juga mendorong mereka tumbuh adaptif di era teknologi. ***

Editor: Elya Yuddy Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini