NAWACITAPOST.COM – Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum refleksi tentang arah pembinaan generasi muda di Kota Surabaya. Namun, di tengah gegap gempita peringatan 28 Oktober 2025, muncul tanda tanya: apakah pemuda Surabaya hari ini benar-benar dibina untuk mandiri, atau sekadar dijadikan alat pencitraan kekuasaan?
Dua organisasi yang paling menonjol di kancah kepemudaan Surabaya — Surabaya Next Leader (SNL) dan Karang Taruna — kini seolah menjadi simbol dua wajah pembinaan pemuda: satu dibesarkan oleh pemerintah, satu berjuang dengan keringat sendiri di tingkat akar rumput.
SNL, yang digagas dan didukung penuh oleh Pemkot Surabaya, mendapat ruang istimewa: mulai dari gedung megah “Rumah Surabaya Next Leader” hingga dukungan fasilitas dalam setiap kegiatan. Di banyak forum, Wali Kota Eri Cahyadi kerap tampil sebagai sosok pembina utama.
Namun kritik muncul bahwa SNL kini lebih mirip wadah “pemuda seragam”, bukan “pemuda merdeka”.
“Yang dibutuhkan Surabaya bukan pemuda yang pandai memuji wali kota, tapi yang berani bicara kebenaran untuk kotanya,” ujar Hari Agung, salah satu aktivis muda Surabaya, menanggapi fenomena pembinaan yang terkesan formalistik.
Di sisi lain, Karang Taruna justru bertahan dengan semangat swadaya. Meski sering tanpa fasilitas megah, organisasi ini tetap eksis di tingkat RW, dari kegiatan sosial, bimbingan belajar gratis, hingga peringatan Hari Anak Nasional. Namun tak jarang mereka merasa diabaikan oleh kebijakan kota yang lebih sibuk mendandani program baru daripada memperkuat yang sudah lama mengakar.
“Anak-anak Karang Taruna itu pejuang di lapangan. Tapi kami jarang dilibatkan dalam forum resmi, padahal kami yang paling tahu masalah pemuda di bawah,” keluh salah satu pengurus Karang Taruna yang enggan disebut namanya.
Ironisnya, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini di Surabaya sepertinya akan lebih ramai oleh spanduk dan sambutan pejabat ketimbang inisiatif pemuda sendiri.
Banyak pihak menilai, arah kebijakan kepemudaan Pemkot Surabaya semakin top-down, lebih mementingkan citra dan kontrol ketimbang memberi ruang bagi kreativitas mandiri.
Pembinaan pemuda di Surabaya kini ibarat dua dunia: yang satu diangkat kamera pemerintah, yang satu dilupakan lampu jalan. Keduanya sama-sama muda, tapi hanya satu yang diberi panggung.
“Pemerintah kota tampaknya lebih sibuk mencari ‘pemuda patuh’ daripada ‘pemuda tangguh’. Padahal semangat Sumpah Pemuda adalah melawan dominasi, bukan merayakan patronase,” tegas Hari.
28 Oktober ini, sejumlah komunitas lokal pun mulai menyuarakan keresahan mereka di media sosial dengan tagar sindiran seperti #SumpahPemudaBukanSumpahProyek dan #PemudaBukanPelengkapPanggung.
Mereka menuntut agar Pemkot Surabaya memberi ruang setara bagi seluruh organisasi kepemudaan, tidak hanya bagi yang lahir dari program resmi.
Karena, sebagaimana bunyi Sumpah Pemuda yang legendaris itu, “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu...” — bukan bertumpah dana hibah yang sama. *** (red)