NAWACITAPOST.COM — Ratusan jurnalis dari berbagai media mengikuti Workshop Wartawan Surabaya yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di Balai Diklat, Prigen, Pasuruan, Sabtu-Minggu (23-24 Agustus 2025). Kegiatan ini mengusung tema “Membaca Potensi Aset Pemerintah Kota Surabaya untuk Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD)”.
Sejumlah pemateri dihadirkan, di antaranya Kepala BPKAD Surabaya Wiwiek Widayati, Asisten Daerah Pemkot Surabaya M. Fikser, Kepala BKSDM Ira Tursilawati, Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya Pdt. Rio Pattiselanno, Akademisi Untag Surabaya Syofyan Hadi, serta Imam Syafi’i, mantan jurnalis senior yang kini duduk di Komisi D DPRD Surabaya.
Selain itu, jajaran Komisi A DPRD Surabaya juga hadir, mulai dari Ketua Yona Bagus Widyatmoko hingga anggota M. Saiffudin, Muhaimin, Tubagus Lukman Amin, dan Cahyo Siswo Utomo.
Dalam kesempatan itu, Imam Syafi’i menyoroti peran penting media di era modern. Ia menegaskan bahwa jurnalis tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga dituntut menjadi pengawas yang kritis sekaligus pemandu konstruktif.
“Kemitraan antara media dan lembaga pemerintahan, seperti yang ditunjukkan Komisi D DPRD Surabaya dengan wartawan, menjadi kunci untuk memastikan arus informasi yang akurat dan berimbang,” ujar Imam Syafi’i, politisi senior Partai Nasdem.
Imam mengingatkan bahwa konsep media watchdog harus dipahami secara lebih luas. Menurutnya, media tidak cukup hanya “menggonggong” pada setiap masalah, tetapi juga perlu memberikan arah solusi.
“Media harus menjadi anjing penjaga yang memberikan petunjuk, bukan sekadar pengkritik. Dengan pemahaman mendalam atas isu, media bisa menjadi mitra strategis dalam pembangunan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya verifikasi, riset mendalam, dan ketelitian di tengah arus cepat informasi digital. Menurutnya, persaingan di media sosial sering kali mendorong jurnalis untuk mengorbankan kualitas demi kecepatan.
“Berita yang tidak memberi manfaat pada akhirnya akan ditinggalkan pembaca. Komitmen utama jurnalis adalah melayani kepentingan publik,” ungkap Imam.
Lebih jauh, Imam menilai media kini juga berfungsi sebagai marketplace ide dan inspirasi. Keberlanjutan finansial media, menurutnya, dapat ditempuh dengan model bisnis yang inovatif.
“Mereka harus terus mengasah kemampuan, menjadi pengawas yang bertanggung jawab, dan sekaligus katalisator perubahan positif. Dengan demikian, media akan memainkan peran sentral dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berdaya,” pungkasnya. ***