NAWACITAPOST.COM — Sebuah perjalanan pulang yang seharusnya penuh rindu dan kebahagiaan berubah drastis menjadi petaka mengerikan di tengah lautan. Nataniel Emanual Siola Guna (40), seorang pekerja migran yang hendak pulang ke kampung halamannya, dilaporkan hilang secara misterius setelah diduga nekat melompat dari dek 7 KM Lambelu ke dalam gelapnya perairan Pulau Pemana, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden dramatis ini terjadi pada Rabu (15/7/2026) dini hari sekira pukul 01.19 WITA.
Hingga berita ini diturunkan, Tim SAR Gabungan masih terus berpacu dengan waktu dan ganasnya arus laut untuk menemukan keberadaan korban.
Detik-Detik Menegangkan di Tengah Laut
Suasana tenang di atas kapal motor milik PT Pelni itu mendadak pecah menjadi kepanikan massal. Berdasarkan kesaksian Noben Da Silva, rekan kerja korban yang juga berada di kapal, Nataniel awalnya terlihat duduk santai bersama rekan-rekannya. Namun, entah apa yang merasuki pikirannya, ia tiba-tiba berdiri dan melangkah menuju dek 7.
Baca Juga: Bukan Lagi Penonton di Tanah Sendiri: Membedah Cetak Biru Gerakan Betawi Naik Kelas
"Dia lompat dari dek 7 ke laut saat kapal berada di sekitar perairan Pemana sekitar pukul 01.19 Wita," ungkap Noben dengan nada bergetar.
Kepedihan mendalam menyelimuti peristiwa ini. Nataniel tidak sedang bepergian sendiri. Di dalam kapal yang sama, sang istri menyaksikan malam panjang yang berubah menjadi mimpi buruk. Pasangan suami istri ini diketahui telah merantau selama tiga tahun di sebuah perusahaan kelapa sawit di Kalimantan Timur. Mereka menaiki KM Lambelu dari Pelabuhan Balikpapan menuju Pelabuhan Larantuka demi sebuah pelukan hangat yang sudah lama dinanti oleh anak mereka di Desa Watololong, Adonara Tengah.
Kini, rekaman CCTV kapal menjadi saksi bisu detik-detik terakhir saat Nataniel memanjat pagar pembatas dek dan terjun bebas ke kegelapan laut malam.
Manuver Penyelamatan dan Respons Cepat Samudra
Begitu alarm tanda bahaya berbunyi, Mualim Jaga langsung bertindak cepat mengaktifkan sistem Man Overboard (MOB) pada perangkat Electronic Chart Display and Information System (ECDIS) untuk mengunci koordinat terakhir korban di titik 8°22.310' LS dan 122°23.272' BT.
Baca Juga: Gebrakan Parlemen Batam: Komisi IV DPRD Dorong Pariwisata Naik Kelas demi Dongkrak Ekonomi Rakyat!
Nakhoda KM Lambelu langsung mengambil alih komando, memutar balik haluan kapal raksasa tersebut, dan melakukan manuver pencarian darurat. Panggilan darurat (Mayday) diserukan melalui Radio VHF Kanal 16, meminta bantuan kapal-kapal di sekitar perairan untuk ikut memantau.
Namun, setelah satu jam menyisir lautan kelam tanpa hasil, demi keselamatan pelayaran yang membawa ratusan nyawa lainnya, KM Lambelu terpaksa melanjutkan perjalanannya, meninggalkan misteri di tengah riak ombak.
Tim SAR Mengamuk Ombak, Radius Pencarian Diperluas
Mendapat laporan resmi pada Rabu siang, Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere langsung bergerak cepat. Di bawah komando Fathur Rahman, Tim Rescue bersenjata lengkap dengan Rigid Inflatable Boat (RIB) berkekuatan monster 500 PK langsung diterjunkan ke lokasi kejadian.
Unsur yang Terlibat dalam Operasi SAR
- Kantor SAR Maumere
- Pangkalan TNI AL (Lanal) Maumere
- Polres Sikka
- KSOP Maumere & PT Pelni
- Nelayan & Masyarakat Pesisir Pulau Pemana
Di lokasi, tim gabungan berkoordinasi erat dengan nelayan setempat sembari melakukan penyisiran permukaan laut secara masif. Sayangnya, hingga matahari terbenam di hari pertama, sang samudra belum mau mengembalikan Nataniel.