NAWACITAPOST.COM – Semangat persaudaraan lintas gereja kembali bergema di Surabaya. Sabtu (27/6/2026), BNKP Jemaat Surabaya ambil bagian dalam Lomba Vocal Group Antar Gereja yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-106 GPIB Immanuel Surabaya. Momen ini menjadi bukti bahwa pujian mampu menyatukan perbedaan dalam satu iman.
Perayaan HUT GPIB Immanuel tahun ini diikuti berbagai gereja dari beragam denominasi di Surabaya. Selain menjadi ajang menampilkan talenta paduan suara, kegiatan tersebut memperkuat semangat ekumenis, mempererat persaudaraan, sekaligus menjadi ruang kebersamaan umat Kristiani dalam memuliakan Tuhan.
BNKP Jemaat Surabaya datang tanpa membawa ambisi menjadi juara. Bagi mereka, panggung perlombaan bukan sekadar arena kompetisi, melainkan kesempatan mempersembahkan pujian terbaik sebagai bentuk syukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan pelayanan jemaat.
Sebanyak 12 penyanyi terbaik BNKP tampil membawakan lagu pujian dengan harmonisasi yang matang. Seluruh peserta dibimbing langsung oleh pelatih Vocal Group, Sdr. Soni Gea, yang menyatukan karakter suara berbeda menjadi satu keselarasan yang indah dan penuh makna.
Di bawah penggembalaan Pdt. Asalnyaman Amenesi Harefa, S.Th., seluruh peserta mengaku menjadikan setiap latihan sebagai bagian dari pelayanan. Mereka percaya bahwa kualitas pujian lahir bukan hanya dari teknik vokal, tetapi juga dari ketulusan hati yang memuliakan Tuhan.
"Bagi kami, juara hanyalah bonus. Mahkota yang sesungguhnya adalah ketika pujian ini diterima dan berkenan di hadapan Tuhan. Jika Tuhan disenangkan, itulah kemenangan terbesar yang kami syukuri," ungkap Sdr. Soni Gea penuh haru.
Dukungan penuh juga diberikan Majelis Jemaat BNKP Surabaya. Restin Zai, Vence Lombu, Grace Zebua, Leci Tel, bersama jemaat lainnya terus memberikan doa, motivasi, dan pendampingan selama proses latihan hingga penampilan di atas panggung.
Salah seorang peserta, Veman Gea, mengaku sempat diliputi rasa gugup sebelum tampil. Namun suasana ibadah dan sukacita yang dirasakan selama perlombaan membuat seluruh rasa cemas berubah menjadi damai serta keyakinan untuk memberikan persembahan terbaik.
"Awalnya kami sangat grogi. Tetapi begitu berdiri di atas panggung dan melihat sukacita jemaat, kami ingat bahwa kami hadir bukan untuk diri sendiri. Semua lelah latihan terasa terbayar karena dapat memuliakan Tuhan bersama," tuturnya.
Keterlibatan BNKP Surabaya menjadi gambaran nyata bahwa semangat ekumenis terus tumbuh di Kota Surabaya. Perbedaan latar belakang gereja tidak menjadi sekat, melainkan kekuatan untuk bersama-sama membangun persaudaraan melalui pujian dan pelayanan.
Mengutip Mazmur 103 ayat 2, "Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya." Semangat itulah yang menjadi pesan utama kehadiran BNKP Jemaat Surabaya, bahwa setiap talenta terbaik layak dipersembahkan hanya bagi kemuliaan Allah Tritunggal. ***