NAWACITAPOST.COM – Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK UWKS) menunjukkan komitmennya dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Pada Selasa (2/9/2025), tim dosen FK UWKS mengadakan penyuluhan bertema “Edukasi Mengenal, Mencegah, dan Mengobati Infeksi Cacing Kremi pada Anak” di Balai RW VIII, Kelurahan Putat Jaya, Jalan Dukuh Kupang Barat I No 11 Surabaya.
Kegiatan ini dihadiri puluhan ibu PKK RT 02 RW VIII Putat Jaya. Antusiasme peserta begitu terasa karena topik yang diangkat sangat dekat dengan keseharian mereka, khususnya terkait kesehatan anak.
Latar Belakang Kegiatan
Kegiatan PKM ini digagas sebagai bentuk kontribusi nyata FK UWKS dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat. Infeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis) masih menjadi masalah kesehatan umum di Indonesia, terutama pada anak-anak usia sekolah.
Menurut data Kementerian Kesehatan, prevalensi penyakit kecacingan masih cukup tinggi, dan berdampak pada tumbuh kembang anak, mulai dari gangguan gizi, menurunnya konsentrasi belajar, hingga risiko penularan di lingkungan keluarga.
"Pemerintah secara resmi mengganti program Kampus Merdeka dengan inisiatif baru bernama Kampus Berdampak. Program ini mendorong perguruan tinggi tidak hanya fokus pada pembelajaran, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap persoalan sosial, lingkungan, hingga ekonomi," ungkap Lusiani Tjandra S.Si, Apt, M.Kes dosen FK UWKS ketua panitia sekaligus sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut .
"Konsep Kampus Berdampak mengajak perguruan tinggi untuk tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga menjadi pusat perubahan sosial. Tujuan utamanya adalah menjadikan kampus sebagai motor penggerak solusi atas tantangan nyata yang dihadapi masyarakat," tambahnya.
Materi Penyuluhan: Mengenal dan Mencegah Infeksi Cacing Kremi
Dalam sesi pertama, dr Kartika Ishartadianti, M.Ked menjelaskan secara rinci mengenai siklus hidup cacing kremi dan bagaimana penularannya.
Cacing kremi memiliki ukuran sangat kecil, bahkan telurnya hanya bisa terlihat dengan mikroskop. Telur dapat menempel di makanan, udara, maupun benda yang disentuh anak. Setelah masuk ke dalam tubuh, telur menetas di usus kecil, kemudian berkembang biak di usus besar.
“Gejala yang paling sering adalah gatal di area anus, terutama malam hari. Gatal ini muncul akibat cacing betina meletakkan telur di sekitar rektum. Ketika anak menggaruk, telur menempel di kuku lalu bisa tertelan kembali. Inilah yang membuat siklus infeksi berulang,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pengobatan serentak dalam keluarga.
“Jika satu anggota keluarga terinfeksi, seluruh anggota harus ikut diobati. Risiko penyebaran sangat tinggi, apalagi pada anak-anak yang masih suka berbagi mainan atau makanan,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kebiasaan sederhana: mencuci tangan sebelum makan, menghindari kebiasaan menggigit kuku, serta rutin mencuci pakaian dan sprei.
Materi Kedua: Pengobatan infeksi cacing Kremi
Materi berikutnya dibawakan oleh Lusiani Tjandra S.Si, Apt, M.Kes yang memaparkan strategi pengobatan infeksi cacing kremi.
Ada tiga jenis obat yang umum digunakan, yaitu Mebendazol, Pirantel pamoat, dan Albendazol. Mebendazol dan Pirantel pamoat bisa dibeli bebas di apotek, sementara Albendazol harus dengan resep dokter.