NAWACITAPOST.COM — Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris ternyata menyimpan berbagai permasalahan yang urgent. Limbah pupuk dan pestisida dari aktivitas pertanian secara perlahan namun pasti meracuni sungai-sungai, mengubah sumber kehidupan menjadi ancaman kesehatan yang merayap dalam setiap tetes air.
Krisis air bersih di daerah pertanian pun tak lagi menjadi isu sederhana, melainkan tantangan kompleks yang memerlukan solusi inovatif dan berkelanjutan. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kerap berubah menjadi muara masalah.
Aliran air tidak hanya membawa butiran kehidupan, tetapi juga sampah plastik, limbah organik kotoran sapi, hingga polutan lainnya. Limbah dari pertanian ini membawa bahan kimia berbahaya ke dalam aliran sungai dan mengancam kehidupan ekosistem air dan kualitas air yang sangat dibutuhkan oleh warga setempat.
Baca Juga: Tagih Janji Bupati Nganjuk, Ratusan Ketua RT RW Geruduk Kantor DPRD Saat Hearing
Fenomena yang tampak di sungai pada Gambar di atas merupakan contoh nyata dari pencemaran air akibat limbah pertanian, yaitu eutrofikasi. Eutrofikasi merupakan kondisi ketika perairan dipenuhi tumbuhan air seperti eceng gondok akibat kelebihan nutrisi dari limbah rumah tangga, pupuk, maupun pestisida.
Sekilas terlihat sepele, tetapi pertumbuhan tanaman yang tak terkendali ini justru menutup permukaan air, mengurangi kadar oksigen terlarut, dan membuat ikan serta organisme lain sulit bertahan hidup. Ditambah lagi dengan sampah plastik dan limbah padat yang mengotori aliran sungai, kondisi ini memperparah pencemaran dan merusak keseimbangan ekosistem.
Lalu, bagaimana ilmu sains mengatasi masalah eutrofikasi?
Nanopartikel Fotokatalis: Konsep Revolusioner yang Ramah Lingkungan
Sebelum membahas penanganan, kita perlu mengetahui bahwa kandungan utama pada pupuk dan pestisida, terutama unsur fosfor (P) yang umum telah menjadi salah satu penyebab utama eutrofikasi ketika unsur‐unsur ini terbawa ke badan air lewat limpasan.
Baca Juga: Setelah Empat Kali Datangi Kantor BRI Cabang Nganjuk, Humas BRI Regional Malang Berikan Rilis
Pupuk NPK dan pestisida Organofosfat dapat menyumbang limbah fosfor (PO₄³⁻) dalam perairan yang dapat menyuburkan alga dan tanaman air. Kandungan posfor dalam pupuk biasanya sekitar 14-20%.
Sebagai bentuk upaya mengurangi kandungan fosfat di dalam perairan akibat limbah pertanian, fotokatalitik dapat menjadi pilihan alternatif. Fotokatalitik adalah proses pemanfaatan cahaya (umumnya sinar UV atau cahaya tampak) untuk mengaktifkan suatu semikonduktor katalis (misalnya TiO₂, ZnO, Fe₂O₃) sehingga menghasilkan pasangan elektron (e⁻) dan hole (h⁺).
Pasangan ini akan memicu reaksi redoks yang mampu memecah senyawa organik maupun anorganik berbahaya di air. Proses fotokatalitik ini umumnya berbasis nanopartikel. Nanopartikel adalah partikel yang sangat kecil dengan ukuran berada pada skala nanometer (1–100 nanometer).
Karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki kelebihan diantaranya memiliki luas permukaan yang sangat besar dibandingkan volumenya sehingga meningkatkan reaktivitas kimia dan efisiensi dalam berbagai aplikasi, mulai dari katalisis hingga energi.
Baca Juga: Empat Kali Datangi Kantor BRI Cabang Nganjuk, Tim Awak Media Tak Ditemui Pimpinan