SURABAYA, NAWACITAPOST – Di era ketika satu unggahan bisa memengaruhi opini publik dan mendorong perubahan kebijakan pemerintah, jurnalis dituntut bukan sekadar cepat menyampaikan informasi, tetapi juga cerdas memanfaatkan teknologi dan tetap akurat dalam mengungkap fakta. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang baru bagi dunia pers, sekaligus menghadirkan tantangan serius terhadap integritas dan kualitas pemberitaan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan bertajuk “Smart Journalist: Memanfaatkan AI untuk Jurnalisme yang Lebih Cepat, Cerdas, dan Akurat” yang digelar melalui kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Komisi X DPR RI di Hotel Rich Palace, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 07.00–14.00 WIB ini menghadirkan Dr. Reni Astuti, anggota Komisi X DPR RI, serta pemateri dari kalangan peneliti BRIN.
Dalam sambutannya, Reni menegaskan bahwa media memiliki posisi strategis dalam kehidupan demokrasi dan pembangunan nasional. Menurutnya, kerja jurnalistik bukan hanya menyampaikan informasi kepada masyarakat, melainkan juga memberikan kontribusi nyata bagi arah kebijakan dan kemajuan bangsa.
“Media sebagai salah satu pilar demokrasi, ini juga akan memberikan kontribusi yang besar untuk pembangunan Indonesia secara luas,” ujar Reni.
Reni mengungkapkan, pengalamannya berinteraksi dengan media sejak menjadi anggota DPRD Kota Surabaya pada 2009 memberinya gambaran tentang besarnya pengaruh pemberitaan terhadap respons pemerintah. Saat itu, media cetak masih menjadi salah satu saluran informasi utama, sebelum perkembangan media sosial mengubah pola komunikasi antara masyarakat, pers, dan pemangku kebijakan.
Ia mengenang bagaimana pemberitaan atas persoalan yang ditemui saat turun ke masyarakat dapat membantu menyampaikan aspirasi warga kepada publik. Informasi tersebut tidak berhenti sebagai berita, tetapi berpotensi mendorong pemerintah mengevaluasi pelayanan dan mengambil kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat.
“Pengembangan sebuah kota itu sangat dipengaruhi oleh keberadaan teman-teman jurnalis,” tuturnya.
Menurut Reni, fungsi tersebut semakin penting ketika pemerintah pusat maupun daerah dituntut merespons persoalan publik secara cepat dan terbuka. Jurnalis memiliki peran dalam mengawasi jalannya pembangunan, mengungkap persoalan pelayanan, serta memastikan suara masyarakat tidak tenggelam di tengah birokrasi.
Namun, lanskap informasi saat ini telah berubah. Kehadiran telepon pintar dan media sosial membuat hampir setiap orang dapat merekam, memotret, serta menyebarkan informasi. Keluhan tentang pelayanan publik dapat viral dalam hitungan menit dan menjangkau masyarakat luas tanpa harus melalui ruang redaksi media konvensional.
Reni menilai perkembangan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi jurnalis. Di satu sisi, pers harus bersaing dengan derasnya arus konten digital. Di sisi lain, jurnalis profesional tetap memiliki tanggung jawab untuk memeriksa fakta, menguji informasi, menghadirkan konteks, dan mempertanggungjawabkan setiap berita yang dipublikasikan.
Perkembangan AI menjadi salah satu tantangan baru yang perlu direspons secara serius oleh insan pers. Teknologi ini dapat membantu pekerjaan jurnalistik, mulai dari mentranskripsikan wawancara, merangkum dokumen panjang, mengelompokkan data, menerjemahkan materi, hingga menemukan pola awal dalam kumpulan informasi.
Bagi jurnalis yang menangani isu kebijakan publik, anggaran daerah, pendidikan, kesehatan, maupun pelayanan masyarakat, kemampuan tersebut dapat menghemat waktu dalam tahap pengolahan bahan. Dokumen yang sebelumnya harus diperiksa secara manual satu per satu dapat dibantu dengan perangkat AI untuk menemukan bagian yang relevan, menyusun kronologi, atau menyiapkan pertanyaan lanjutan.
Meski demikian, AI tidak dapat diperlakukan sebagai sumber kebenaran yang berdiri sendiri. Sistem AI bisa menghasilkan informasi keliru, mengarang referensi, salah memahami konteks, bahkan menyajikan data lama seolah-olah masih berlaku. Karena itu, setiap hasil olahan teknologi tetap membutuhkan verifikasi melalui dokumen asli, narasumber yang kompeten, dan sumber data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah konsep smart journalist menjadi relevan. Jurnalis yang cerdas bukan semata-mata mereka yang menggunakan teknologi terbaru, melainkan mereka yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa menyerahkan penilaian editorial kepada mesin.