politik

Fenomena Tokoh Nasional Turun Gunung Di Pilkada, Pengamat Nilai Figur Paslon Kunci Utama

Jumat, 22 November 2024 | 15:23 WIB
Universitas Majalengka, Otong Syuhada

Majalengka, NAWACITAPOST.COM - Dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah serentak Tahun 2024 ini tengah hangat menjadi sorotan. Pasalnya, tokoh nasional turun gunung ikut serta menjadi tim sukses kemenangan bagi salah satu Paslon yang ikut kontestasi.

Hal itu tak hanya terjadi dibeberapa tempat, termasuk dalam Pilkada serentak di Kabupaten Majalengka, beberapa tokoh nasional ikut turun gunung memenangkan Paslon di Majalengka.

Terpantau, beberapa tokoh nasional yang ikut mendorong salah satu Paslon, diantaranya Garibaldi Thohir (Kakak Erick Thohir, Yoshua Sirait (Anak Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman RI) dan juga beberapa tokoh lainnya yang ikut mengkampanyekan Paslon No urut Satu Eman Suherman dan Dena Muhammad Ramdhan.

Namun hal tersebut, pengamat dari Universitas Majalengka, Otong Syuhada menilai bahwa kehadiran beberapa tokoh nasional yang turut mendampingi salah satu Paslon di Majalengka tidak menjadi faktor utama dalam kemenangan.

Otsyu begitu sapaannya, menjelaskan bahwa sosok calon lebih menentukan dibanding keberpihakan tokoh tertentu.

Di beberapa daerah, tokoh-tokoh Jakarta kerap datang untuk memberikan dukungan terhadap paslon tertentu. Tokoh-tokoh itu, biasanya terafiliasi dengan partai pengusung dari salah satu paslon.

Terkait hal itu, Mantan Anggota DPRD Majalengka dia periode itu menilai, keputusan tokoh-tokoh nasional yang turun gunung, mungkin saja memberi pengaruh terhadap calon pemilih. Namun, dia menegaskan, kehadiran tokoh itu tidak akan memberi dampak terlalu signifikan.

Dekan Fakultas Hukum itu, sosok dari Paslon, tetap menjadi faktor utama masyarakat menjatuhkan pilihan.

"Ada saja sih pengaruhnya. Tapi yang dominan tetap dari tokoh itu," ungkap Otong Syuhada, Jumat (22/11/2024).

Dalam hal itu, dia memberikan contoh ketika pelaksanaan Pilpres lalu, saat Jokowi bersatu dengan Prabowo.

"Ambil kasus d politik nasional, bergabungnya Jokowi dan Prabowo, tidak mendapatkan suara telak. Kalau liat kekuatan dua tokoh itu, sepertinya bisa lebih dari 58 persen," ungkapnya.

Fenomena lainnya yang terjadi yaitu Kader 'membelot'

Sementara itu, pada Pilkada Majalengka, terdapat fenomena sejumlah kader yang memutuskan berbeda pilihan dengan putusan partai.

Seperti yang terjadi, Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) DPD PAN Majalengka Tete Sukarsa memutuskan untuk mendukung paslon nomor urut 2, padahal PAN mengusung paslon nomor urut 1.

Halaman:

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB