Oleh: Bidot Suhariyadi, SE
Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Politik Surabaya.
Perjalanan Politik Khofifah
Khofifah Indar Parawansa, lahir 19 Mei 1965, memulai kiprahnya di dunia politik sejak usia muda. Lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga pada 1990, Khofifah melangkah di dunia politik dengan menjadi anggota DPR pada usia 27 tahun. Karirnya terus menanjak hingga ia menjabat sebagai Menteri Sosial Indonesia ke-27 dari 2014 hingga 2018, serta sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Persatuan Nasional di era Presiden KH. Abdurrahman Wahid.
Pengalaman Khofifah di bidang politik semakin kokoh dengan kiprahnya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama. Sejumlah peran penting ini membuatnya menjadi sosok yang memiliki pengalaman serta wawasan luas dalam memimpin, terutama di wilayah Jawa Timur.
Kontestasi Pilgub Jatim: Jalan Panjang Menuju Kepemimpinan
Meski terlihat ditakdirkan menjadi pemimpin, perjalanan Khofifah menuju kursi Gubernur Jawa Timur bukanlah tanpa hambatan. Upayanya pertama kali di Pilgub Jatim 2008, berpasangan dengan Mujiono (Kaji), tidak berhasil. Mereka kalah dalam putaran kedua yang ketat melawan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Di Pilgub Jatim 2013, Khofifah kembali mencalonkan diri, kali ini bersama Herman S Sumawiredja (Berkah). Meski mendapatkan dukungan besar dari berbagai parpol, pasangan ini kalah oleh petahana KarSa.
Namun, kekalahan tidak menyurutkan semangat Khofifah. Pada 2018, Khofifah kembali mencalonkan diri, kali ini berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak, dan berhasil menang dengan perolehan suara sebesar 53,55%. Kemenangan ini adalah bukti kesabaran serta keteguhan hatinya dalam menghadapi tantangan dan membuktikan komitmennya untuk mengabdi kepada Jawa Timur.
Kepemimpinan Khofifah: Representasi Perempuan dan Kemajuan Jawa Timur
Khofifah Indar Parawansa dikenal sebagai sosok yang tidak hanya memperjuangkan keterwakilan perempuan dalam politik tetapi juga merepresentasikan kepentingan perempuan dalam kepemimpinannya. Dengan menjadi Gubernur Jawa Timur, Khofifah menunjukkan bahwa perempuan dapat berperan besar dalam membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Selama lima tahun memimpin, Khofifah berhasil membuat kemajuan signifikan di berbagai sektor. Ia berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem, mengurangi tingkat pengangguran, dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Khofifah juga memperjuangkan pendidikan gratis berkualitas dan mendapat lebih dari 600 penghargaan dari dalam dan luar negeri atas prestasinya. Berdasarkan survei The Republic Institute, tingkat kepuasan masyarakat Jawa Timur terhadap kinerja Khofifah mencapai 82,8% pada periode 2019-2024.
Elektabilitas Khofifah Menjelang Pilgub Jatim 2024
Sejumlah survei menunjukkan bahwa elektabilitas Khofifah Indar Parawansa bersama Emil Dardak masih unggul untuk Pilgub Jatim 2024. Survei dari LSI Denny JA, misalnya, menunjukkan bahwa pasangan Khofifah-Emil memiliki elektabilitas sebesar 65,8%, jauh di atas pasangan lain yang bertarung dalam kontestasi tersebut.
Sebagai warga Jawa Timur, saya bersyukur bahwa provinsi ini selalu mendapat pemimpin yang berprestasi dan berdedikasi. Perjalanan politik Khofifah adalah inspirasi bahwa takdir dan kesabaran dapat membawa seseorang mencapai puncak.
Menuju Masa Depan: Takdir yang Dinanti
Menghadapi masa depan, pertanyaan menarik muncul: akankah takdir membawa Khofifah melangkah lebih jauh, misalnya dalam Pemilihan Presiden 2029? Perjalanan hidup seseorang sering kali diwarnai dengan penantian dan kesempatan, dan sejarah akan mencatat mereka yang mewakafkan diri serta pikiran untuk kepentingan bangsa. Akankah sejarah mencatat langkah Khofifah menuju panggung nasional? Waktu akan menjawabnya, namun jelas bahwa kepemimpinannya di Jawa Timur telah memberikan teladan yang kuat bagi masyarakatnya. ***