Baca Juga : Puan Maharani, Bacakan Daftar Lengkap Cakada PDIP Gelombang V Untuk 21 Daerah
Orang Sumbar mendesak Puan meminta maaf, belajar sejarah, dan jangan mengulangi pernyataan yang menyinggung itu lagi. Bahkan Pasangan Mulyadi - Ali Mukhni yang diusung partai Banteng Moncong Putih sebagai calon Gubernur dan calon wakil Gubernur Sumbar karena desakan masyarakat tanah Minangkabau itu mengembalikan SK BW form B1 ke KPU.
Lebih tragis lagi. Ketua DPD PDI Perjuangan Sumbar Alek Indra Lukman dengan alasan hasil rapat bersama pengurus partai itu, tidak lagi mengikuti proses Pemilihan Gubernur Sumbar.
Namun pembelaan pun disampaikan secara akal sehat oleh Dosen Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ade Armando melalui akun You Tube, Minggu 6 September 2020.
Ade yang berdarah Minang ini menjelaskan bahwa pernyataan Ketua DPR seharusnya menjadikan bahan intropeksi masyarakat Sumbar. Sebab, di provinsi itu banyak terjadi degradasi nilai Pancasila.
"Puan itu sekedar menyampaikan keprihatinan yang selama ini banyak dirasakan banyak orang di luar Sumbar. Sebagian orang Sumbar sendiri merasa ada yang salah dengan provinsinya saat ini. Orang minang yang tinggal di Jakarta juga banyak yang merasa sedih dengan kondisi daerah asalnya. Seharusnya orang Sumbar bukan marah, melainkan melakukan intropeksi atas sindiran Puan," kata Ade melalui siaran di channel Cokro TV miliknya.
Ade menjelaskan, Sumbar banyak melahirkan tokoh-tokoh besar pada masa lampau, seperti Mohammad Hatta, Agus Salim, Sutan Syahrir, Tan Malaka dan Hamka, Mohammad Natsir dan Muhammad Yamin. Menurut Ade, Puan sangat menyadari peran tokoh-tokoh itu sebagai sosok yang pluralis.
Namun, kini tidak ada lagi tokoh sekaliber mereka yang ada di Sumbar saat ini. "Kalau Bung Hatta masih hidup, mungkin dia juga khawatir dengan apa yang terjadi di tempat kelahirannya itu," jelas Ade.
Pernyataan Ade ini seharusnya mendapat dukungan dari semua elemen dan komponen bangsa. Bahwa Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika harus tumbuh subur dan berkembang di tanah air Indonesia. Sebab dengan hal itu, kita bisa membangun bangsa dan negara secara beradab dan berkelanjutan ke arah yang lebih baik.
Sedangkan calon Pilgub Sumbar yang sudah diusung PDI Perjuangan, gara-gara ucapan Puan tidak mau didukung Partai Banteng Moncong Putih. Bisa dikategorikan mendukung degradasi nilai Pancasila di tanah Minang itu.
Dan, khusus untuk PDI Perjuangan, hal ini bisa menjadi partai yang bersikap tegas kepada kadernya. Yang mana kader berjuang secara sungguh-sungguh dengan nilai Pancasila, serta mana kader yang mau Pancasila terdegradasi.
Sedangkan untuk Ketua DPD Perjuangan Sumbar yang tidak mau mengikuti proses Pilgub Sumbar, seharusnya mendapat terguran keras dari kantor Pusat PDI Perjuangan. Bukankah tegaknya layar Pancasila untuk menyatakan kepada dunia, bahwa Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika bertumbuh subur dengan pesatnya di bumi Indonesia.
Pada dasarnya pernyataan Puan menjadikan Pancasila Ada Menjadi Sakti, bukan isapan jempol belaka. Puan memuji Sumbar lebih baik kedepan, para tokoh asal Minang pun prihatin dengan daerahnya yang mengalami degradasi nilai-nilai Pancasila itu.