Jika peta saat ini dibaca secara faktual, keempat figur mempunyai sumber modal yang berbeda.
Emil memiliki pengalaman di pemerintahan provinsi dan posisi struktural di Demokrat.
Eri memiliki pengalaman sebagai kepala daerah di Surabaya serta mulai memperoleh perhatian dari sejumlah elite partai.
Lia memiliki posisi sebagai anggota DPD RI dan muncul cukup tinggi dalam survei pemilih muda 2026.
Sedangkan Risma memiliki pengalaman sebagai kepala daerah, mantan menteri, serta pengalaman bertarung langsung dalam Pilgub Jatim 2024.
Karena itu, angka survei tidak cukup untuk menentukan siapa yang akan maju pada 2029. Yang akan menentukan justru kombinasi antara elektabilitas, popularitas, jaringan politik, kekuatan partai, kemampuan membangun koalisi, basis wilayah dan keputusan masing-masing partai.
PETA MASIH BISA BERUBAH
Menariknya, survei ARCI 2026 yang memotret pemilih usia 17–40 tahun bahkan belum menempatkan Risma dalam daftar angka yang dipublikasikan untuk sembilan nama teratas. Sebaliknya, Lia muncul di posisi kedua dan Eri di posisi ketiga.
Hal ini menunjukkan satu hal penting: peta politik 2029 belum bisa dibaca hanya dari nama-nama yang sudah pernah bertarung.
Emil mempunyai angka survei yang kuat. Lia menunjukkan kenaikan perhatian di kalangan pemilih muda. Eri mempunyai modal pemerintahan dan jaringan politik Surabaya. Risma mempunyai pengalaman elektoral tingkat provinsi.
Pertarungan sebenarnya baru akan terlihat ketika mesin partai mulai menentukan arah dan para figur memutuskan apakah benar-benar masuk arena.
Untuk saat ini, empat nama tersebut lebih tepat disebut figur potensial dalam bursa Pilgub Jatim 2029, bukan kandidat resmi.
Dan satu hal yang sudah pasti: Jawa Timur belum menentukan siapa yang akan maju. ***