Baca Juga : KH Ma’ruf Amin Resmi Gantikan Jusuf Kalla Jadi Wapres
Sudah bukan rahasia lagi ada benang merah yang disepakati jika Anies terpilih sebagai Gubernur. Salah duanya, Formula E yang menghabiskan dana mencapai 360 milyar rupiah dan ijin reklamasi.
Balapan Formula E yang di selenggarakan disekitar Monas juga menuai masalah dari segi taman dan trotoar. Sangat mengganggu dan merusak lebih tepatnya.
Sedangkan reklamasi dijinkan Anies, padahal saat kampanye disampaikan kepada pendukungnya menolak alias anti. Lalu kenapa Anies sampai mengijinkan?
Anies Baswedan Saat Kampanye PIlkada 2017 Menolak Reklamasi
Disinilah kata itu dimainkan Gubernur Jakarta. Saat kampanye Anies begitu dekat dengan umat. Banyak umat peduli dan menyalurkan dukungan suaranya di Pilkada.
Begitupun kedekatan kepada umat tak pernah dia abaikan. Pembangunan museum untuk umatpun dia letakan paling utama di lahan reklamasi.Walaupun menabrak atau melanggar janji kampanyenya. Itu tak menjadi persolan baginya.
Penolakan atau demo yang dilakukan pendukung kepada Anies terkait ijin reklamasi memang ada, tapi tak sampai membesar. Hanya sekali atau mungkin dua kali.
Tak kehabisan kata, tepat disematkan kepada Anies. Hal tersebut dikatakan pengamat Komunikasi Politik, Hendri Satrio menyatakan Gubernur Jakarta pintar merangkai kata-kata, namun seharusnya bersamaan dengan kinerjanya
Anies sadar pemberian ijin reklamasi adalah bentuk pelanggaran. Maka untuk meredamnya adalah membangun Museum Rasulullah di lahan reklamasi Ancol.
Peletakan batu pertama museum pun dihadiri JK yang bukan lagi menyandang Wapres melainkan sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Jadi jelas kan Anies butuh pencitraan untuk naik ke level berikutnya dan JK adalah menthornya. Sedangkan JK jiwa pengusahanya begitu kental namun butuh kedekatan dengan penguasa.