NAWACITAPOST.COM – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Surabaya menggelar pertemuan internal pada Senin malam (19/5/2025) di GRHA Mahameru, Jalan Jemursari. Undangan yang tersebar luas di kalangan internal menyebutkan bahwa agenda utama dalam pertemuan dengan Eri Cahyadi sebagai Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Timur sekaligus Wali Kota Surabaya.
Menariknya, undangan resmi tersebut hanya ditujukan kepada Ketua, Sekretaris, dan Bendahara Pimpinan Anak Cabang (PAC) serta para Ketua Ranting PDIP se-Kota Surabaya. Tak satu pun pengurus DPC diundang, meski nama Plt. Ketua dan Sekretaris DPC tercantum sebagai pihak pengundang. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai transparansi dan etika organisasi dalam internal partai berlambang banteng tersebut.
Dalam forum yang digelar tertutup itu, Eri Cahyadi tampil sebagai pembicara utama. Ia menyampaikan berbagai kritik dan sorotan tajam terhadap kondisi internal partai di Surabaya, terutama di bawah kepemimpinan sebelumnya. Ia mengungkapkan kekecewaannya atas sejumlah persoalan yang selama ini tidak terselesaikan dengan baik.
Baca Juga: 'Gonjang-ganjing' PDIP Surabaya: Eri Cahyadi Gusar, Pertemuan Tanpa Pengurus DPC
Bahkan menurut sumber internal yang hadir dalam pertemuan tersebut, Eri menemukan bahwa DPC PDIP Surabaya memiliki utang sebesar kurang lebih Rp4,4 miliar di penghujung masa jabatan Ketua DPC sebelumnya.
Langkah dan sikap Eri tersebut mendapat respons keras dari tokoh senior PDIP Surabaya, Saleh Ismail Mukadar. Ia menilai bahwa forum itu telah melanggar prinsip dasar organisasi yang mengedepankan kolektif kolegial.
“Saya dengar hanya Ketua DPC yang diminta hadir pada acara tersebut. Kalau itu benar, maka Eri Cahyadi telah memberikan contoh buruk dalam berorganisasi,” ujar Saleh Ismail Mukadar kepada Nawacitapost, Selasa (20/5/2025).
Baca Juga: Promeg'96 Desak Rotasi Ketua DPRD, Sebut Adi Tak Penuhi Syarat Lagi
Saleh menekankan bahwa dalam struktur partai, setiap keputusan dan pertemuan penting seharusnya melibatkan pengurus lengkap, terutama jajaran inti di DPC. Ketidakhadiran pengurus inti dinilainya dapat menimbulkan perpecahan internal yang berbahaya.
“Dengan cara hanya menghadirkan Ketua DPC tanpa pengurus lain atau minimal KSB DPC, maka itu bentuk perusakan soliditas partai dari dalam,” tegas Saleh.
Ia juga menyoroti gaya kepemimpinan Eri Cahyadi yang dianggap tidak jauh berbeda dengan dua mantan pengurus DPC yang baru saja dibebastugaskan, yakni Adi Sutarwijono dan Achmad Hidayat.
Baca Juga: 5 Bulan Menunggu, Gaji Staf DPC PDIP Surabaya Akhirnya Cair. Suasana Kantor Kian Hangat
“Sebagai Pengurus DPD, Eri seharusnya paham bahwa tindakannya memberikan pesan pada kita bahwa cara-cara Adi Sutarwijono dan Achmad Hidayat adalah cara-cara yang diajarkan Eri Cahyadi,” tambahnya.
Dengan nada prihatin, Saleh menyatakan bahwa kritik yang ia sampaikan bertujuan menjaga integritas dan kekompakan internal partai agar tidak hancur oleh manuver-manuver pribadi.