Kamis, 4 Juni 2026

Pilpres 2024, Ini Prediksi Petrus Loyani

Photo Author
Elya Yudi, Nawacita Post
- Rabu, 26 April 2023 | 22:25 WIB

Jakarta NAWACITAPOST - Petrus Loyani dalam keterangan tertulisnya 26 April 2023, memprediksi bahwa saat Pilpres 2024 nanti, akan terjadi pertarungan politik antara golongan nasionalis vs golongan Islam politik. Golongan Islam politik menurutnya adalah untuk membedakan dengan umat Islam pada umumnya.

"Dalam pilpres 2024, saya perkirakan akan mulai panas disekitar Juli/Agustus 2023 dan akan overheated sd awal 2024," Tulis Petrus.

"Pasalnya, karena golongan Islam politik konservatif yang selama ini menyimpan rindu dendam merebut kekuasaan di RI, sejauh ini dari Indonesia merdeka di 1945 sampai sekarang- belum pernah kesampaian, maka wajar jika pada tiap event Pilpres mereka akan berjuang mati-matian untuk merebut kekuasaan secara konstitusional, " Katanya.

Jadi menurut Petrus, sangat wajar jika mereka akan fight all out untuk merebut kekuasaan itu. Pendekatan utamanya tentu dengan mengkapitalisasi sentimen identitas agama Islam.

Tetapi meskipun penduduk Indonesia mayoritas (mungkin factual sekitar 75% Islam), sebagian besar tidak setuju dengan menggunakan agama sebagai instrumen politik. Buktinya lebih banyak yang berada digolongan nasionalis.

"Seperti saya katakan diatas faktanya partai partai Islam tidak pernah memang pemilu. Tetapi bagi golongan Islam politik mungkin kalkulasi mereka menganggap saat ini merupakan golden opportunity karena beberapa faktor, " Ucap Petrus.

Faktor pertama, kata Petrus adalah dendam pada Prabowo yang di pilpres 2019 didukung oleh sementara golongan Islam politik (ulama, FPI, HTI dan 212), tapi dianggap khianat dengan jadi menterinya Jokowi.

Kedua, ucapan-ucapan Megawati yang terkesan anti Islam terkait pernyataannya yang tidak butuh dukungan suara umat Islam dan kritik kepada ibu ibu yang rajin ikut pengajian.

Kemudian juga saudaranya, Sukmawati yang "murtad" dari agama Islam dan kembali menjadi pemeluk Hindu, juga kata-kata yang dianggap menyakiti hati wong cilik terkait pernyataannya tidak mau punya mantu tukang bakso padahal itu haknya, akan dikapitalisasi habis-habisan oleh golongan Islam politik untuk menyerang PDIP.

Apalagi dari dulu PDIP sudah selalu distigma dekat dengan komunis padahal dalam lingkungan Islam sendiri dulu banyak tokoh-tokohnya yang komunis/marxis khususnya dalam lingkungan Serikat Islam.

Yang ketiga, ada tokoh atas nama Anies Baswedan (selanjutnya saya sebut ABas yang oleh sementara lawan politiknya), yang oleh para buzzer pendukung Jokowi distigma sebagai bapak politik identitas.

Tetapi oleh golongan Islam politik mungkin justru sebaliknya malah dijadikan icon paripurna alias ideal karena beberapa faktor ini: ABas keturunan Arab walaupun belum tentu dijamin diterima sepenuh hati oleh semua rakyat Indonesia, beragama Islam, cocok dengan sentimen agama mayoritas orang Indonesia.

Kemudian pernah dipecat Jokowi sehingga secara psikologis tumbuh dendam pada Jokowi yang bisa memicu semangat untuk tumbangkan rezim Jokowi, pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta satu periode penuh yang paling tidak bisa jadi modal psikologis dan politis lebih percaya diri dan sekarang sukses dapat tiket pilpres karena didukung 3 (tiga) parpol: Nasdem, PKS dan Demokrat (9+8+7 = 24%) berarti potensi suaranya sudah diatas ambang batas (electoral threshold 20%).

Maka jika dibanding koalisi Gerindra PKB: 12 + 9 = 21% berarti koalisi pendukung ABas lebih unggul atau jika dibanding KIB: Golkar, PAN, PPP, PERINDO, PSI: 12 + 6 + 4 + 2 + 1 total: 25% berarti koalisi pendukung ABas hanya kalah tipis hanya 1%, dan jika dibanding PDIP 19% (yang sejauh ini belum berkoalisi dengan partai manapun) berarti koalisi pendukung ABas unggul 5% sangat signifikan.

Walaupun demikian masih ada beberapa faktor sulit khususnya dalam menentukan cawapres dan dukungan suara lebih besar dari partai-partai koalisi itu.

"Saya tidak menggunakan angka survei elektabilitas karena angka itu baru spekulasi, tapi saya menggunakan angka perolehan suara partai-partai dalam pemilu 2019 karena itu angka empiris sesuai perhitungan KPU," terang Petrus.

Koalisi Golkar, masih kata Petrus, walaupun sudah punya potensi suara 25% tapi sampai saat ini belum punya figur yang memadai untuk cawapres apalagi capres.

Kemungkinan yang terbuka bagi Golkar atau bargain cawapres ke PDIP; atau bargain cawapres ke Nasdem, karena Golkar relatif tidak punya friksi ideologis dengan kedua partai itu dan selain itu kepentingan politiknya masih bisa terjamin.

"Tetapi saya duga seandainya Golkar memilih berkoalisi atau ditarik berkoalisi oleh salah satu blok, kemungkinan besar Golkar lebih cenderung memilih berkoalisi dengan PDIP dari pada dengan Nasdem dkk, karena faktor pengaruh Jokowi yang kuat dan potensi perolehan suara yang lebih signifikan yakni 25+19 = 44%," terangnya.

Kalau hal itu terjadi, berarti terwujudlah koalisi besar dan soal dapat apa termasuk dapat jatah cawapres yang bisa disepakati diinternal Golkar/KIB dan juga bisa diterima PDIP sudah selesai.

PDIP pasti juga tidak mungkin bisa lonely, terlalu takabur, dia pasti butuh sekutu untuk memperbesar suara.

"Ingat, Megawati sendiri berkali-kali gagal nyapres kalau toh dia pernah menjadi Presiden itu bukan karena menang pemilu tapi karena kecelakaan Gus Dur," ungkap Petrus.

"Kalau spekulasi pikiran saya itu benar, artinya kalau Golkar PDIP bersatu, tentu berat bagi Prabowo dan ABas untuk menang pilpres," imbuhnya.

Disisi lain, lanjut Petrus, kemungkinan bergabungnya koalisi Gerindra, PKB dengan koalisi Nasdem, PKS dan Demokrat hampir mustahil terjadi bukan karena faktor ideologis tapi lebih ke faktor praktis yaitu ego dan kepentingan kekuasaan karena antara Prabowo sebagai capres Gerindra PKB dan ABas sebagai capres Nasdem PKS Demokrat pasti tidak bakal ada yang mau turun pangkat jadi cawapres. Selain itu lebih dipersulit lagi dengan perebutan figur cawapres karena akan ada rivalitas antara PKB vs PKS & Demokrat.

Persoalan akan bisa jadi berubah total jika: pertama, Golkar dkk mau menerima ajakan Paloh berkoalisi ke Nasdem dkk namun walaupun potensi suara sangat signifikan 25 + 24 = 49% tetapi kemungkinan ini kecil sekali terwujud karena ada keberatan dari PKS dan Demokrat untuk figur cawapres yang akan diusung: atau dari PKS/ Demokrat atau dari Golkar dkk,

Kedua, jika Golkar berkoalisi dengan Gerindra, PKB yang berarti potensi suaranya juga signifikan 25% + 22% = 47% walaupun begitu kemungkinan ini juga relatif kecil walau masih lebih terbuka bagi Golkar untuk bargain cawapres karena suara Golkar jauh diatas PKB apalagi ditambah suara para sekutunya sehingga secara etis dan teknis Golkar pantas mendapat kehormatan untuk menempatkan cawapres karena suaranya masih lebih superior dari PKB.

Tapi sekali lagi, dua kemungkinan diatas sulit terwujud karena faktor pengaruh Jokowi ke Airlangga nampaknya jauh lebih kuat daripada pengaruh Prabowo dan Surya Paloh ke Airlangga, selain itu jika Golkar dkk berkoalisi ke PDIP bargaining penempatan cawapresnya masih lebih terbuka dan kuat karena adalah wajar jatah cawapres diberikan pada Golkar dan sekutunya karena selain Golkar sebagai juara 3 dalam pilpres 2019 sekarang dengan KIBnya potensi suara jauh mengungguli PDIP dan disisi lain nampaknya PDIP jauh lebih komfort/nyaman bekerjasama dengan Golkar daripada dengan Gerindra PKB karena conflict of interest figur capres sedang dengan blok Nasdem lebih mustahil karena faktor dendam Megawati terhadap SBY dan pertentangan ideologis dengan PKS.

Jadi meskipun golongan Islam politik saat ini merasa punya figur yang ideal yaitu ABas dan golden opportunity, tetapi masih harus menghadapi problem vote barrier yang tidak mudah bahkan sangat serius.

Jika koalisi besar tidak terbentuk dan demikian juga dengan koalisi Gerindra PKB dengan Nasdem PKS dan Demokrat tidak terwujud, berarti ketiga kandidat capres akan maju bertarung dengan kekuatan masing masing berdasarkan angka angka survey elektabilitas Prabowo 30%; Ganjar 26% dan ABas 25% ini berarti masing masing blok harus merogoh kocek masing masing untuk biaya pilpres kurang lebih @ Rp.12 - Rp. 15 triliun.

Dalam titik ini, mau tidak mau atau dapat dipastikan mereka butuh cukong pendukung dana, maka kritik pada ologarki oleh para oposan Jokowi selama ini sungguh dungu atau munafik karena tidak masuk akal dan the last but not least dukungan cukong rasanya kecenderungannya lebih besar ke GP/PDIP dan Golkar daripada ke Prabowo dan ABas.

"Ini hanya analisa saya saja dan belum tentu benar, tentang dukungan pribadi saya kepada salah satu kandidat pilpres akan saya ungkap diwaktu yang lain tentu dengan alasan2 yang rasional," ucap Petrus Loyani mengakhiri keterangan tertulisnya. (BNW)

Editor: Elya Yudi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB