Majalengka, NAWACITAPOST.COM - Memasuki tahapan kampanye pada Pemilihan Kepala Daerah serentak tahun 2024 ini tak hanya dilakukan secara tatap muka. Media sosial juga kini menjadi alat untuk menarik simpati masyarakat.
Namun praktik kampanye di media sosial terkadang tidak 'menjual' ide dan gagasan. Saling menghujat secara personal malah yang paling banyak ditemukan di beranda-beranda media sosial.
Kendala terbesar hingga saat ini, menurut pengamat politik Akademi Pemilu dan Demokrasi, Alan Barok Ulumuddin menyampaikan bahwa akun-akun fake atau palsu banyak bertebaran di media sosial setiap memasuki momen Pilkada.
"Kalau melihat potensi berita hoaks dan kampanye hitam kayaknya kita sekarang sudah bisa melihat, bahwa praktik-praktik tersebut mulai bertebaran di medsos," ungkap Alan Barok Ulumuddin, Sabtu (28/09/2024).
Masih dikatakan Alan, banyaknya akun fake yang bertebaran di media sosial mampu membuat polarisasi yang dapat memicu adu domba.
"Banyak banget akun anonim yang kalau kita lihat isinya (postingannya) yang bikin kita geleng-geleng kepala," ucapnya.
Dalam pengamatannya postingan akun-akun tersebut dapat memecahkan belah masyarakat. Pasalnya postingan akun-akun anonim ini sering memuat kampanye yang tidak sehat.
"Di postingan mereka tuh sering banget ngankat isu sensitif yang bisa manasin suasana," ujarnya.
Mengingat hal itu, Alan mengajak masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dengan postingan yang ada di media sosial. Masyarakat harus lebih cerdas dalam menyerap informasi di media sosial agar tidak mudah terpapar informasi yang menyesatkan.
"Buat kita selaku masyarakat penting banget, jangan sampai mudah termakan isu yang dapat mengadu domba," Ungkapnya.
Dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut, dirinya menegaskan bahwa masyarakat sebagai pemilih harus cerdas menggunakan hak pilihnya pada calon Kepala Daerah yang dirasa memiliki kapasitas untuk Memajukan Majalengka.
"Kita harus lebih pintar, jadi cek dulu kebenarannya sebelum share biar kita nggak termasuk nyebarin hoaks soalnya hoaks dan kampanye hitam ini bisa bikin polarisasi, memecah belah antar pendukung dan akhirnya merusak kedamaian Pilkada di Majalengka," tandasnya.(Defri Ardiansyah)