Baca Juga : Kampus San Pedro Menampar Keras BEM UI
Alasan tersebut. Membuat BEM UI menyatakan bahwa Presiden Jokowi membungkam ekspresi atau kebebasan mahasiswa. Padahal yang terjadi, malah Jokowi menyatakan itu hak kebebasan mahasiswa, dan pembuat poster tersebut hanya diminta klarifikasi oleh pihak rektorat. Jadi, tidak ada skors apalagi pemecatan mahasiswa. Lebih-lebih ditahan di penjara.
Jika, BEM UI melakukannya di era orde baru. Yang terjadi, bukan hanya dirinya dicopot sebagai mahasiswa, ditahan dipenjara. Orang tuanya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri akan tamat karirnya alias dipensiunkan secara cepat.
Menurut aktivis media sosial Denny Siregar “Buat orang-orang yang pernah merasakan pengapnya hidup di orde baru, tidak berani kemukakan pendapat karena "dinding" saja bisa mendengar, menyebut kata "cendana" dengan berbisik dan penuh ketakutan, era sekarang ini sungguh merdeka,” cuitnya lewat akun Twitter @DennySiregar7, dikutip Kamis (1/7).
Denny menilai masa pemerintahan Jokowi lebih menjamin kebebasan berpendapat ketimbang era orde baru. Dia juga menyindir mahasiswa yang seolah berposisi sebagai korban.
Jika BEM UI sekarang mengatakan terjadi pembumkaman itu hanya mengada-ada. Buktinya, Ketua BEM UI saat ini terus bergerilya meminta dukungan kepada kelompok anti Jokowi dan partai (baca : PKS dan Demokrat).
Menyoal PKS. Selain lahir di era reformasi. Namun, karakternya bukan reformasi. Partai ini sempat mengusulkan Presiden RI ke dua sebagai pahlawan nasional. Entah apa yang merasukinya dengan ungkapan seperti itu.
Bahkan untuk mendongkrak suara di Pemilu 2004 hingga 2019. Caranya dengan menyusupkan kader PKS memasuki kampus-kampus ternama. Lalu merebut jabatan Ketua BEM tingkat fakultas dan Universitas.
PKS sengaja menjadikan bidang pendidikan sebagai perolehan suara di pemilu. Sehingga segala cara tak pantas pun digencarkan. Tak aneh kader PKS hadir di pelosok-pelosok gang sempit di Kota- Kota Besar Indonesia. Mengajarkan bimbingan mata pelajaran les gratis kepada siswa dengan sarat orang tua atau saudaranya yang punya hak pilih memilih PKS.
Sehingga pantas saja, PKS gemar mengkaderkan Ketua BEM di kampus-kampus ternama sebagai kadernya. Makanya kebanyakan mahasiswa saat ini, tidak menghargai perbedaan sebagai kekuatan bangsa Indonesia.