Kamis, 4 Juni 2026

Abdullah Hehamahua Pernah Dipenjara, Punya Tabiat Melawan Pemerintah Dan Menolak Pancasila

Photo Author
- Minggu, 16 Mei 2021 | 19:55 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST - Pria gaek kelahiran Ambon 18 Agustus 1947, tapi tak mau disebut orang Ambon, lebih suka dipanggil sebagai orang Makassar.  Orang ini selalu punya masalah dengan negara sejak 1967 (dipenjara), 1974 (dipenjara), 1984 (melarikan diri pasca kerusuhan Tanjung Priuk, kembali ke Indonesia setelah pasca reformasi tahun 1998, dan Maret 2021 pernyataan kontroversial diucapkan dengan menyebut Jokowi sebagai Fira'un. 

Baca Juga : Lindungi Koruptor Donatur HTI dan FPI?  Novel Baswedan Ngotot Tetap di KPK




MELAWAN pemerintahan Soeharto, dan menolak pancasila. Tak bertanggung jawab diperlihatkan Hehamahua, yaitu melarikan diri ke Malaysia. Ketika Soeharto Jatuh (turun takhta),  ikut berseru seakan menjadi bagian reformasi. Jelas-jelas dia datang ke Indonesia ketika Soeharto telah dijatuhkan Demonstrasi Mahasiswa.

Baca Juga : Novel Baswedan Cs  Tidak di KPK Lagi, Anas, Nazaruddin, Antasari Azhar Bongkar Dosa Cikeas?




KESEMPATAN menjadi bagian utama dalam pergerakan selalu direbutnya dengan berbagai cara tak pantas. Menjadi penasehat KPK juga, karena cara-cara tak patut.

Selain bantuan senyap dari SBY (kala itu Menkopolhukam era Megawati) ngebet Capres, dan Hehamahua melakukan bargaining untuk dirinya masuk sebagai penasehat KPK, hingga tahun 2013,  bertepatan dengan menjelang berakhirnya pemerintahan SBY.

Boleh dibilang SBY menempatkan orang-orang di KPK, bukan hanya Komisioner dan wadah pegawai KPK,  melainkan Hehamahua.

Tepatnya Hehamahua selalu dekat dengan kaum radikalis. eks HTI, eks FPI  yang selalu berpaham intoleren dan melekat juga dalam dirinya. Pembelaan kepada laskar eks FPI yang meninggal karena melawan petugas Kepolisian.  Hehamahua malah menyatakan, eks FPI itu korban pembunuhan alias tidak melawan petugas.

Menjadi Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3)  membuat Hehamahua dianggap bisa menyelesaikan persoalan. Nyatanya tak berhasil. Yang ada pertemuan dengan Presiden Jokowi di Istana Negara pada 9 Maret 2021, dianggapnya sebagai pertemuan Nabi Musa (Hehamahua)  bertemu Fir'aun (Jokowi).

Pernyataan Hehamahua bukan menentramkan kesejukan demokrasi kebangsaan. Malah menimbulkan kontroversi dan kegaduhan tak perlu. Akibatnya berbagai kalangan pro demokrasi dan toleransi seperti Ferdinand Hutahean, Ade Armando, Sudjiwo Tedjo PBNU hingga MUI Hehamahua beramai-ramai menghujatnya. Akibat hujatan tersebut, Hehamahua mengklarifikasi pernyataan tersebut, dengan berdalih bahwa pernyataan itu hanya analogi.

Hal lainnya yang urgen, bahwa Hehamahua ini tak tahu berterima kasih kepada negara, karena mendapat gaji dari APBN, dan menjabat di KPK, tapi kelakuannya selalu melawan pemerintah (kecuali era SBY).

Yang jelas  sahabat karibnya sudah meninggalkan dirinya. Contohnya, Rizieq Shihab dan  Munarman dipenajara, Tengju Zulkarnain meninggal, dan Novel Baswedan tidak di KPK lagi. Bahkan kabarnya Amien Rais sohib kentalnya tak mau lagi bertemu dengan Hehamahua.  Minta tolong ke Cikeas, lah Cikeas juga lagi dirundung dan diterpa kisruh Demokrat.

Yang bisa dilakukan, Hehamahua hanya mengunjungi Rizieq dan Munarman di Penjara. Itupun kalau diterima oleh keduanya.

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB