Baca Juga : Denny Siregar : ASN Selain di KPK Terpapar Radikalisme, Pecat Saja
KEKESALAN bernada umpatan Novel bertambah dengan narasi yang digelorakan tak jelas bhwa terjadi penyingkiran pegawai KPK berintegritas, sudah dirancang dan direncanakan sejak lama. Bisa dikatakan, Novel selalu menggunakan serangan kepada dirinya (walaupun itu tidak pernah ada) dengan selalu berkata kriminalisasi.
Soal tes wawasan kebangsaan, boleh disebut sebagai syarat menjadi alih status ASN. Penguji tesnya, melibatkan lintas bidang dan departemen di pemerintahan; BNPT, TNI AD, Badan Kepegawaian Negara dan Bidang Kompeten yang dianggap penting. Jadi agak sulit untuk mengarah kepada penyingkiran terhadap pegawai tertentu di KPK.
Tes tertulis dan lisan pun diajukan. Itu sebagai upaya mengetahui bahwa integritas seseorang terutama pegawai KPK yang dibiayai negara loyal pada Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
Perlu dicatat Novel Baswedan bekerja di KPK Selama 14 tahun dan jelas mendapat gaji dari APBN. Sebab, mungkin bagi Novel di KPK selain namanya melambung tinggi juga mendapat pendapatan biaya besar di luar gaji. Bisa saja (dugaan) orderan dari para bandar yang merasa terganggung oleh para pejabat akan kebijakan yang menghambat para bandar atau karena bandar kalah oleh kebijakan dari sang pejabat, maka Novel bisa dijadikan wayang dalam bergerak dan menangkap koruptor pejabat.
Yang jelas dan bisa dikatakan, bersih-bersih KPK dari orang-orang yang berpaham radikalisme mulai dilakukan salah satunya melalui tes wawasan kebangsaan. Pegawai KPK yang tidak lulus tes, masyarakat merasa bersyukur.