Jakarta, NAWACITAPOST- Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Partai Demokrat kubu Moeldoko, Saiful Huda Ems mengatakan, ramainya pemberintaan seputar gugurnya gugatan kubu Moeldoko karena tidak hadir dalam sidang Partai Demokrat membuat loyalitas kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) semakin besar kepala dan menyerang kubu Moeldoko secara membabi buta dengan berbagai ejekan-ejekan yang tidak mencerminkan jati diri mereka sebagai kaum terdidik.
“ Ya Wasekjen DPP PD kubu AHY, Irwan contohnya telah menyampaikan dengan gugurnya gugatan pihak Moeldoko itu, dapat dibaca bahwa Moeldoko dkk tidak memiliki kesiapan, baik secara subtansi maupun alat bukti untuk menggugat AD/ART 202
Saiful mengatakan, pernyataan Irwan sebagai bagian dari kubu AHY itu baginya menunjukkan bahwa AHY masihlah belum dapat benar-benar memahami hakikat perang hukum dan politik itu sendiri. Ternyata mereka terjebak dengan asumsi-asumsi sendiri yang salah kaprah tidak memahami masalah.
Menurut dia, kubu AHY seperti sedang berperang menghadapi bayangan ketakutan dan kepanikannnya sendiri sehingga mereka selalu salah dalam menilai.
Baca Juga: https://nawacitapost.com/nasional/2021/05/04/bandingkan-demokrasi-era-jokowi-dan-sby-kubu-moeldoko-kualitas-intelektual-ahy-rendah
“Mereka lupa bahwa yang dihadapi AHY dan SBY kali ini bukanlah Ketum Partai selevel AHY itu sendiri yang hanya seorang pelarian Mayor, anak Pepo yang ibarat pisang masih hijau tetapi dipaksa matang dengan dikarbit terlebih dahulu, melainkan Dr Moeldoko seorang mantan Jenderal bintang empat yang sangat kenyang dengan pahit, getir dan manisnya hidup,’ tegasnya.
Dia mengaku bahwa Moeldoko sudah terbiasa diterima menghadapi dan menyelsaikan berbagai persoalan pelik dari kecil hingga dewasa dari prajurit TNI di tingkatkan paling dasar ke puncak tertinggi sebagai Panglima TNI, dari anak sekolah dasar hingga menjadi doctor,” ujarnya.
Saiful menjelaskan, Moeldoko dan jajaran pengurus Demokrat hasil KLB pasti akan memberikan pelajaran paling penting dan berharga untuk SBY terlebih untuk anaknya , yakni AHY dengan berbagai strategi perang poltik dan hukumanya yang akan mencengangkan banyak orang. Pasalnya strategi perang politik dan hukum Moeldoko ini tidak gampang dibaca oleh lawan-lawan politiknya, bahkan oleh temannya sendiri kecualia mereka yang sudah sangat dekat dan sudah mendapatkan pencerahan darinya.
“Termasuk gugurnya gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini, banyak yang tidak tahu kalau itu barulah sebuah pancingan,” ujarnya.
Editor: Agus Irawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Terkini
Rabu, 3 Juni 2026 | 11:32 WIB
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:41 WIB
Kamis, 28 Mei 2026 | 11:42 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 | 23:44 WIB
Rabu, 27 Mei 2026 | 00:07 WIB
Selasa, 26 Mei 2026 | 21:35 WIB
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:48 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 | 16:07 WIB
Selasa, 19 Mei 2026 | 09:31 WIB
Senin, 18 Mei 2026 | 14:41 WIB
Minggu, 17 Mei 2026 | 15:44 WIB
Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:45 WIB
Jumat, 15 Mei 2026 | 20:30 WIB
Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB
Sabtu, 9 Mei 2026 | 13:36 WIB
Minggu, 3 Mei 2026 | 17:55 WIB
Selasa, 21 April 2026 | 21:19 WIB
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB
Jumat, 3 April 2026 | 23:29 WIB
Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:23 WIB