Baca Juga : Istana Presiden Baru Di Kaltim : Diselesaikan Presiden Jokowi, Ditempati Pemimpin Berikutnya
ADAPUN isi gugatan JAM menuntut ganti rugi ke AHY sebesar 55, 8 miliar akibat dirinya dipecat sewenang-wenang (tidak sesuai AD/ART) oleh putra sulung SBY, begitu penjelasan JAM.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
PN Jakarta Pusat perlu waktu 15 hari mempelajari gugatan dari JAM. Dan, gelar pertama sidang digelar Rabu 17 Maret 2021. Ironisnya AHY tak hadir dalam sidang gugatan tersebut. Menurut Herzaki Mahendra Putra dari kubu AHY, bahwa ketidak hadiran putra sulung SBY karena berkasnya belum lengkap dan sementara disiapkan. Bahkan panggilan kedua pada Rabu 24 Maret 2021, Herzaki menyatakan belum tahu apakah bisa hadir atau tidak karena tergantung dari kuasa hukum yang diketuai Bambang Widjojanto (BW).
Padahal soal taat hukum SBY adalah yang paling getol bersuara lantang dan diwarisi kepada kedua anaknya. Namun suara lantang itu ketika kaitan hukum tidak menerpa keluarganya apalagi anak-anaknya. Seperti rekam jejaknya saat menjadi Presiden. Saat Anas Urbaningrum (AU) ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demorkat. Segala cara dilakukan SBY.
Keluarnya surat perintah penyelidikan (Sprindik) yang ditanda tangani oleh dua komisener KPK, yaitu BW dan Abraham Samad. Sementara 3 Komisioner lainnya belum memutuskan soal Sprindik. Selidik punya selidik ternyata ada seruan dari SBY saat itu lagi melakukan lawatan ke negara Timur –Tengah. Itu diungkapkan teman setia AU, Gede Pasek begitu mengetahui bahwa BW menjadi kuasa hukum demokrat kubu AHY.
Kembali kepada gugatan JAM ke AHY. Sepertinya ini langkah yang ditakuti AHY (tidak hadir di panggilan pertama) atau ada kesan SBY tak mengira persoalannya akan seperti ini. Memang beda dengan saat di militer, semuanya melalui rentang komando setiap persoalan. Ketika AHY masuk digelanggang politik petanya semua berubah. Tuntutan dan cibiran harus diterimanya.
Ya tuntutan ganti rugi itu, sidangnya pasti memakan waktu cukup lama. Seandainya gugatan JAM dikabulkan hakim berdasarkan bukti-bukti yang ada, maka kubu AHY, termasuk SBY sebagai guru politik buat kedua anaknya akan semakin terjepit, terhimpit dan terhempas dari berbagai haluan yang ada. Berhenti dari TNI yang dipaksakan membuat aktivitasnya hanya sibuk dengan permasalahan yang dibuatnya sendiri.