Baca Juga : Usulan Presiden Tiga Periode, Cara Amien Rais Jerumuskan Jokwi
KINI Nazaruddin dan Andi sudah bebas. Kisruh Demokrat, keduanya berbeda kubu. Andi ke AHY, Nazaruddin ke Moeldoko. Andi kini punya jabatan elit sebagai Sekretaris Majelis Tinggi Partai. Nazaruddin digadang-gadang sebagai Bendum partai.
Yang membedakan keduanya. Andi begitu getol membela AHY – SBY dalam konteks apapun. Segala serangan dari kubu Moeldoko (Rawamangun) ditepisnya berkali-kali, tragis tepisannya berbuntut aduan dan bisa menyeret dirinya berurusan dengan hukum lagi. Sementara Nazarudin tak ada kata atau ucapan yang dilontarkan ke media. Hanya ia ada (foto) dalam perhelatan KLB Demokrat Sibolangit.
Jika konteks korupsi dalam Demokrat era Anas. Seharusnya Ibas diduga terseret dalam pusaran tersebut. Logika sederhananya, kenapa hanya Ketum dan Bendum kala itu yang mendekam di penjara, sementara Sekjennya era Anas hingga sekarang bebas berkeliaran malah menjadi Ketua Fraksi Demokrat kubu AHY (Menteng).
JIka Andi begitu bebas, serta leluasa bicara bersihnya Demokrat era AHY. Sepertinya harus dipertanyakan, jika konteks pada Sekjen Demokrat era Anas. Seperyti disampaikan kubu Moeldoko melalui Rahman Nasution, bahwa pihaknya melaporkan Andi ke polisi karena komentarnya soal Moeldoko pada acara bertajuk "Satu Meja" yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV swasta. Dalam acara tersebut, Andi menyebut Moeldoko haus akan kuasa.
Konteks lainnya. Ketakutan kubu Menteng, sebenarnya bakal adanya laporan Nazaruddin dengan segepok bukti yang cukup kuat ke KPK tentang Ibas, sebagai saksi nyata atau lainnya. Jadi Moeldoko hanya sasaran antara saja atau pelampiasan AHY – SBY.