Baca Juga : PDI Perjuangan dan Gerindra Resmi Dukung Gibran, Sinyal Positif Puan Maharani Menuju 2024
Hanya dua pintu Demokrat mengharapkan ajakan dari Istana Negara dan Teuku Umar 46 (kediaman Pribadi Megawati Soekarnoputri). Pintu itu bisa dibuka melalui Puan. AHY sadar bertemu Jokowi dan Mega hanya silaturahmi biasa.
Sedangkan bertemu Puan sesama anak muda silaturahminya bisa berlanjut bukan saja dalam konteks Pilkada 2020 melainkan di Pilpres 2024.
AHY paham dan tahu bahwa mantan Menteri PMK ini adalah calon kuat di Pilpres 2024. Bertambah mesranya Mega dan Prabowo semakin meyakinkan anak sulung SBY ini harus bertemu dengan Puan.
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputeri (kanan) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri)
Jika dulu SBY sebagai Presiden dan Ketua Umum Demokrat banyak didekati elit partai lain di rumah pribadinya ayah dari AHY, Cikeas. Saat ini nampaknya AHY harus mendekat dan bertemu. Memang politik itu bisa menjadi magnet dan menjauh dari magnet.
Suami dari Anisa Pohan ini harus rajin memutar otak, mencari tahu siapa yang perlu didekati dan siapa yang hanya sekedar disapa.
Sekedar mengingatkan saja. Saat ayahnya Puan masih ada (Taufik Kiemas-alm) SBY mengutus beberapa orang supaya PDI P dibawah komando Megawati masuk kabinet. Jawaban Mega kala itu, hanya satu. Tidak mau dan ingin berada diluar pemerintahan SBY, seperti disampaikan orang dekatnya Mega ada Tjahjo Kumolo, Hasto. Dan Pramono Anung.
Namun untuk saat ini, Jokowi tak menawarkan kursi kabinetnya ke Demokrat. Menggunakan pertemuan dengan nakhoda PDI Perjuangan Mega sebagai partai pengusung Jokowi tak membuahkan hasil yang berarti.
Makanya bertemu dengan Puan adalah pilihan jitu untuk bisa membuka segalanya. Minimal untuk Pilkada Solo dan Medan Demokrat bisa diajak. Demikian juga 2024 Demokrat diajak lebih lagi.
Mungkin Mayor TNI Purnawirawan ini berpikiran bahwa jika bertemu Puan, maka urusan dengan Mega dan Jokowi bisa terselesaikan dan berjalan mulus.