Minggu, 19 Juli 2026

Nasionalisme Palsu Di Serikat Pekerja BUMN

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Selasa, 28 Juli 2020 | 13:09 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST- Pengamat energi dari Energi Watch Ferdinand Hutahaen membela Erick Tohir dan Direktur Utama Pertamina Nicke Wydiawati yang digugat Serikat Pekerja Pertamina terkait privatisasi atau penswastaan.

Baca Juga : Jokowi Ahok Basmi Mafia Migas Sembari Buktikan Solar Tak Lagi Impor


Ferdinand berpendapat bahwa kelompok serikat ini nasionalisme dan patriotisme palsu dan sempit. Kesannya seolah-olah ingin membela negara, konstitusi, tapi justru menghambat serta membuat Pertamina tidak maju-maju alias menghambat,  ujar Ferdinand yang disampaikan dalam diskusi virtual, Minggu (26/7/2020).

Proses privatisasi melalui subholding Pertamina diawali dengan Keputusan Menteri BUMN dan Keputusan Direktur Utama Pertamina tentang Struktur Organisasi Dasar PT Pertamina (Persero) yang diduga kuat memanfaatkan celah hukum pada pasal 77 UU BUMN.

Politisi Partai Demokrat ini menganggap tudingan tersebut absurd tidak memiliki bukti dan dasar hukum yang kuat. Di mana, poin-poin gugatan yang diajukan serikat pekerja terkait dugaan adanya privatisasi subholding Pertamina baru sebatas rencana.

Menteri BUMN Erick Tohir

Justru itu, ada potensi gugatan balik yang bisa saja dilayangkan Erick Thohir kepada serikat pekerja Pertamina. Yang jelas tidak ada satupun pemerintah yang ingin perusahaannya rugi, dan saya lihat belum ada," tandas politisi Demokrat dengan tegas.

Serikat Pekerja Pertamina tidak kapok juga. Setelah gagal menjegal Ahok masuk di Pertamina. Gangguan kali ini sepertinya langsung dialamatkan ke orang nomor satu di BUMN. Erick Tohir pun mulai dicari kelemahannya.Privitasi pun dijadikan dagangan politik untuk menjatuhkannya.

Kabarnya serikat ini tidak bekerja sendiri ada kelompok pro radikal yang bermain dan kemungkinan  mau mengganggu orang nomor satu di republik ini.

Ya tujuan mereka jelas ingin menjatuhkan pemerintahan Jokowi. Segala cara dilakukan. Menjadi topeng nasionalisme pun mereka jalan.

Namun angin  dukungan tak mereka dapati. Siap-siap saja mereka harus  berhadapan dengan hukum, dan tidak tertutup kemungkinan menjalani hukuman.

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini