Kamis, 4 Juni 2026

Kader Gerindra di Kabinet Diterpa Isu Kolusi

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Kamis, 9 Juli 2020 | 17:54 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST-Setelah Gerindra mendapatkan kepastian posisi dua menteri; Pertahanan dan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kabinet  Jokowi. Hashim Djojohadikusumo mendekati Menteri KKP Edhy Prabowo. Pendekatan dan langkahnya bisa ditebak, ingin menjadi eksportir benih lobster atau benur. Padahal, ekspor benur ini sebenarnya sudah dihentikan di era Susi, namun dibuka di era Edhy.

Baca Juga : Menteri Dari Gerindra Layak Di Reshuffle, Fadli Zon Bilang Terserah


Hal tersebut dilakukan Hashim, ketika Menteri Edhy membuka keran ekspor benih lobster. Proposal pengajuan dilayangkan ke Menteri Edhy, tak menunggu lama, surat persetejuan dari sang Menteri pun keluar. Memang benar, Hashim adalah pengusaha selama 34 tahun dengan bendera usahahanya bernama Arsari Group. Namun, usahanya  hanya mengekspor mutiara bukan lobster. Hashim adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.

Ternyata Hashim tidak sendiri, konon kabarnya,  ada sederet nama dari kolega partainya ikut menikmati ekspor benur, Rahayu Saraswati anak Hashim salah satunya.  Dalam berbagai kesempatan kepada media, Menteri Edhy menjelaskan bahwa dia menjalankan sikap profesional kepada pengusaha tanpa kecuali, tak ada yang diistimewakan termasuk dari Gerindra, dalihnya.

Rupanya, kebijakan Menteri yang pandai silat ini,  ada Indikasi korupsi kolusi dan nepotisme atau KKN dalam kebijakan ekspor benih lobster yang berpotensi merugikan keuangan negara, hal tersebut disampaikan Deputi Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Kurniawan seperti diberitakan Tagar, Selasa (7/7/2020)..

Selanjutnya, kata Kurniawan, MAKI akan melaporkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 yang ditandatangani 5 Mei 2020 tentang kebijakan ekspor benih lobster, ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Komisi Ombudsman Nasional, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ada syarat-syarat atau aturan menjadi eksportir benih lobster, yang diterabas atau dilanggar, jelas Kurniawan.  Ini by design dari awal. Bagaimana mungkin dalam jangka waktu tiga bulan, kemudian ujuk-ujuk seseorang yang tidak pernah punya latar belakang usaha lobster, kemudian berani melakukan ekspor, benih lobster pula, urai Kurniawan dengan nada geram. Kurniawan,  mengingatkan dengan tegas bahwa kegiatan ekspor lobster ini  ruginya terasa 10 tahun kemudian, tidak saat ini. Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa melihat lobster dalam bentuk visual, karena  barangnya sudah sudah punah.

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB