Surabaya NAWACITAPOST -Waktu pendaftaran Pilkada untuk jalur Parpol memang terbilang masih 4 (empat) bulan lagi, namun gema langkah dan strategi Kandidat untuk mempopulerkan namanya sudah banyak terdengar sampai lapisan bawah masyarakat.
Menurut survey yang dilakukan Lembaga survey Independent ASTI (Akurat Survei Terukur Indonesia), untuk Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya, nama-nama politisi gaek atau pemain lama masih bertengger di posisi atas dalam survei.
Baca juga : Musyafa Noer Usulkan Lia Istifhama Jadi Wakil Machfud Arifin
Manager Operasional ASTI, Baihaki, dalam press rilisnya, menulis ranking lima besar Pilwali Surabaya, yaitu; Wishnu Sakti Buana, yang masih menduduki ranking teratas 27% dibuntuti Armuji 25%, Puti Guntur 23 %, Gus Hans 20% dan Lia Istifhama (Ning Lia) sebesar 19% yang beda tipis dengan di atasnya.
“Kami melakukan survei di Surabaya di awal bulan Januari dengan sampling 1.000 responden melalui wawancara tatap muka door to door pada 31 kecamatan di Surabaya. Margin of error survey tersebut adalah 3%,” ujar Baihakim dilansir Harianbhirawa.co.id. Minggu, (02/2/2020).
Baca juga : Rapimcab PPP Surabaya Diakhiri Tanda Tangan Pakta Integritas Machfud Arifin
Baihaki menambahkan, kans Machfud Arifin (MA) yang langsung melejit di pertengahan Januari.
“Satu-satunya calon yang saat ini mengantongi rekom, yaitu MA masih belum menonjol di masyarakat baik popularitas maupun elektabilitasnya. Sehingga perlu gerakan lagi untuk mendongkrak popularitas maupun elektabilitasnya. Mungkin penyebabnya adalah posisi MA yang baru lending saat ini,” tambahnya.
Baca juga : Penyerahan Hasil Survey, DPD Golkar Surabaya Mengaku “SEVISI” dengan Machfud Arifin
Seandainya pemilu dilakukan hari ini, lanjutnya, masih calon PDI Perjuangan yang masih unggul. Tapi sayang, PDIP sendiri masih belum menentukan kepada siapa kadernya yang mau ditampilkan dalam Pilwali Surabaya ini.
“Saya kira DPP PDIP masih menghitung secara matematis yang layak bertarung dengan MA yang saat ini sudah resmi diusung oleh PAN Gerindra, PKB dan PPP.
Tapi tidak menutup kemungkinan Golkar, PKS, NasDem, dan PSI yang belum menetukan pilihan. Apa mereka mau gabung dengan koalisi pengusung MA atau gabung dengan PDIP. Atau malah bikin Poros Baru yang bisa jadi kuda Hitam dari kontestan yang lain kayaknya masih Cair,” ucap Baihaki.
Baca juga : Sementara Didukung Lima Partai, Machfud Arifin : Akan Ada Yang Lain
Tim koalisi MA, kata Baihaki, harus hati-hati dalam mengambil pendamping. Harus yang punya basis masa yang jelas sehingga bisa mengangkat popularitasnya dan elektabilitasnya kalau ingin bersaing dengan calon PDIP.
“MA harus mencari pendamping yang punya grassroot massa ke bawah dan yang merakyat. Lebih-lebih millenial, sehingga mewakili pemilih melenial ini yang harus di perhatikan kalau tidak ingin kalah telak dengan calon PDIP,” pungkasnya. (Red/BNW)