Minggu, 19 Juli 2026

Siapa Paling Kuat? Tiga Nama Bersaing Rebut Kursi Ketua DPC PDIP Surabaya

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Rabu, 2 Juli 2025 | 20:53 WIB
Kantor DPC PDI Perjuangan kota Surabaya di Jl. Setail (Nawi)
Kantor DPC PDI Perjuangan kota Surabaya di Jl. Setail (Nawi)

NAWACITAPOST.COM – Kekosongan kursi Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya memancing spekulasi beberapa pihak. Tiga nama yang kini mencuat adalah Budi Leksono, Eri Irawan, dan Baktiono. Namun siapa yang akan ditetapkan, sepenuhnya tergantung keputusan DPP PDIP.

Meski ketiganya punya basis kekuatan masing-masing, pakar politik menilai pertarungan ini bukan hanya soal suara terbanyak atau pengalaman, melainkan soal siapa yang paling pas dengan arah politik faksi-faksi dominan di DPP.

“Yang akan menduduki jabatan ketua DPC PDIP Surabaya lebih ditentukan oleh keinginan dari faksi-faksi kuat di DPP,” ujar Dr. Moch. Mubarok Muharam, M.I.P., dosen ilmu politik FISIP Unesa.

Baca Juga: DPC PDIP Surabaya ajak Masyarakat Tonton Film Bung Karno: 'Warisilah Apinya, Bukan Abunya'

Budi Leksono dikenal sebagai politisi kawakan. Sudah tiga periode duduk di DPRD Surabaya, kini menjabat Ketua Fraksi PDIP dan Wakil Ketua DPC. Basis massa akar rumput adalah keunggulan utamanya.

Eri Irawan, wajah baru yang mencuri perhatian. Ia mencetak suara tertinggi di Dapil Surabaya 3 dan kini menjabat Ketua Komisi C. Elektabilitas tinggi dan didukung sejumlah legislator muda, membuatnya jadi pesaing kuat.

Sementara Baktiono, figur paling senior, sempat unggul secara suara, namun masih dibekukan oleh DPP karena sanksi internal. Status ini jadi ganjalan besar, meski loyalisnya tetap solid.

Baca Juga: Tiga Kali Lipat dari Target! Antusiasme Warga Meriahkan Donor Darah PDIP Surabaya

Menurut Mubarok, siapa pun yang ditunjuk oleh DPP untuk memimpin DPC Surabaya tidak terlalu menjadi soal bagi pusat. Yang penting adalah soliditas partai tetap terjaga di basis kuat seperti Surabaya.

“DPP selalu yakin bahwa kekuatan partai politik PDIP itu lebih besar daripada kekuatan figur, khususnya di Surabaya,” jelasnya.

Surabaya dianggap sebagai lumbung suara PDIP yang stabil. Karena itu, keputusan DPP cenderung berpijak pada kalkulasi politik nasional menjelang Pilkada 2024, bukan semata-mata pada capaian individu.

Baca Juga: PDIP Surabaya: Momentum Tahun Baru Islam, Tingkatkan Ketakwaan dan Perjuangkan Kesejahteraan Rakyat

Kini semua mata tertuju ke DPP PDIP. Apakah akan memilih tokoh senior berpengalaman, wajah baru yang sedang naik daun, atau tetap mempertimbangkan loyalis lama yang tersandung masalah internal?

Peta politik di Surabaya bisa berubah drastis tergantung siapa yang dipercaya menakhodai DPC. Tapi satu hal pasti: keputusan bukan di Surabaya, tapi di pusat. ***

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini