Surabaya NAWACITAPOST - Puluh warga Surabaya, sebagian besar merupakan aktivis, memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang jatuh pada tanggal 10 Desember dengan menggelar aksi damai. Aksi ini, bertajuk "Menolak Politik Dinasti," berlangsung di Taman Apsari, depan Gedung Negara Grahadi, pada Senin, 11 Desember 2023.
Sejumlah aktivis, termasuk seniman Taufiq Hidayat (Taufiq Monyong), Ketua ormas Sakera Surabaya Hasanudin, dan mahasiswa Gen-Z Mirza, menyampaikan orasi yang menggambarkan kegelisahan mereka terhadap kondisi demokrasi dan politik dinasti yang dianggap merusak demokrasi.
Mbah Amad, seorang mantan pejuang kemerdekaan Indonesia berusia 102 tahun, turut memberikan orasi, menyampaikan kekhawatiran bahwa perjuangannya telah tercemar oleh kepentingan pribadi. Ia mengajak pemerintah untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi dan mengingatkan pentingnya persatuan tanpa perpecahan.
Aksi ini, yang diketuai oleh Kusnan Hadi, juga menyoroti penangkapan oleh aparat yang dianggap sebagai pelanggaran konstitusi. Mereka menegaskan bahwa rakyat telah cerdas dan menolak politik dinasti yang dianggap merusak demokrasi, khususnya terkait rencana partisipasi Gibran Rakabuming Raka, anak Presiden Jokowi, dalam Pemilu 2024.
Mirza, seorang perwakilan dari Generasi Z, menyatakan bahwa generasinya sudah cerdas dan paham tentang sejarah politik Indonesia, khususnya era pra-reformasi.
Ia menegaskan penolakan terhadap politik dinasti dan berkomitmen untuk tidak membiarkan masa depan Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang dianggap berdarah-darah tangannya.
Seniman Taufiq Hidayat menambahkan bahwa politik dinasti dianggap sebagai pelanggaran HAM yang berat. Ia menyoroti perlunya menjaga moralitas dan etika dalam pemilihan pemimpin, serta menegaskan bahwa pelanggaran HAM bukanlah kesalahan hukum atau undang-undang, melainkan perilaku para pelaku yang menyalahgunakan hukum.
Selain orasi, aksi ini juga dimeriahkan dengan pameran foto terkait HAM dan pertunjukan teaterikal dari Teater Api Indonesia yang menggambarkan penolakan terhadap politik dinasti dan pelanggaran HAM. Pemeran utama, Naryo Pamenang, menjelaskan simbol-simbol kekerasan dan pelanggaran HAM dalam pertunjukan tersebut.
Puncak acara ditutup dengan pertunjukan musik dari kelompok pengamen jalanan Surabaya, menciptakan suasana yang meriah sekaligus menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga Hak Asasi Manusia di tengah-tengah masyarakat. (BNW)
Artikel Terkait
Serunya Nobar di Posko PDIP Surabaya, Ganjar Pranowo Sat-Set dan Atraktif Buat Penonton Kagum
Nobar debat Capres, Bappilu PDIP Surabaya diberi wayang Brontoseno
Sambut Natal, MSP Peduli Berbagi Kebahagiaan untuk Petugas Kebersihan Kota Surabaya
Pokmas Permakanan: Akan ada Ribuan GAMIS Baru di Surabaya
Bawaslu Surabaya Siapkan Langkah Penanganan Sengketa Kampanye Pemilu 2024