pendidikan

Siswa SMAN 1 Pamanukan Subang Ngamuk dan Kejar Terduga Guru Cabul Hingga Gerbang

Selasa, 8 September 2026 | 15:11 WIB
Viral dugaan pelecehan pada siswi oleh oknum guru SMAN 1 Pamanukan. (Instagram.com/@infojalurpantura_)

NAWACITAPOST.COM — Gelombang kemarahan hebat membuncah di lingkungan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ratusan siswa meluapkan amarah massal dan mengejar salah seorang oknum guru berinisial AT hingga ke pintu gerbang sekolah usai pelaksanaan upacara bendera pada Senin, (7/9/2026).
 
Aksi demonstrasi yang berlangsung riuh tersebut dipicu oleh merebaknya dugaan tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru tersebut terhadap salah satu siswinya.

Kericuhan bermula saat ratusan murid berkumpul dan mengepung terduga pelaku untuk menuntut klarifikasi terbuka. AT, yang dikenal sebagai guru mata pelajaran Matematika sekaligus menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan di SMAN 1 Pamanukan, mendadak menjadi sasaran kemarahan massa siswa.
 
Baca Juga: Sengketa Memanas Hingga Dugaan Penganiayaan, Komisi I DPRD Batam Sidak Kavling Bukit Ayu
 
Dalam rekaman video yang mendadak viral di media sosial, terdengar teriakan histeris bertubi-tubi yang melontarkan kata ‘Cabul’ serta nada sindiran berupa panggilan ‘Ayah’—merujuk pada frasa dalam tangkapan layar pesan singkat terduga pelaku yang beredar luas di tengah kalangan pelajar.
 
Suasana makin memanas tatkala massa berusaha mengejar AT yang diduga hendak melarikan diri meninggalkan area sekolah.

Eskalasi ketegangan di lembaga pendidikan formal ini kian memuncak seiring beredarnya selebaran digital bertajuk ‘Waspada! Guru Cabul’ di platform Instagram melalui akun @infojalurpantura_. Selebaran tersebut secara gamblang memuat foto terduga pelaku beserta paparan modus operandi yang digunakannya.
 
AT disinyalir kuat memanfaatkan posisi strategisnya sebagai pejabat sekolah untuk mendekati para siswi, membujuk mereka dengan dalih bimbingan belajar atau penugasan tambahan, hingga kemudian melancarkan aksi pelecehan di lingkungan internal sekolah.
 
Baca Juga: Geger Penemuan Mayat Bayi di Semarang, Sejoli Muda Mudi Ditangkap Polisi
 
Selebaran itu turut mencantumkan imbauan tegas agar para siswa maupun orang tua murid segera melapor ke pihak berwajib atau manajemen sekolah apabila menjadi korban.

Berdasarkan dokumen kronologi yang ditulis langsung oleh korban dan tersebar di jejaring pesan instan, insiden traumatis tersebut bermula saat korban dipanggil menghadap ke ruang guru.
 
Korban yang semula tidak menyimpan kecurigaan lantaran kondisi ruangan cukup ramai, memilih duduk menunggu di salah satu kursi hingga akhirnya tertidur akibat mengantuk.

“Posisi aku tidur tuh duduk di kursi terus badannya ke meja gitu. Padahal, baju aku tertutup, aku pakai jas, aku pakai kerudung, pakaianku enggak mengundang nafsu sama sekali,” ungkap korban dalam tulisan pengakuannya.
 
Baca Juga: Lompati Jawa Barat, Kota Bekasi Menembus Posisi Enam Wilayah Terinovatif Se-Indonesia

Tindakan asusila itu terjadi tatkala korban terbangun dan menyadari terduga pelaku telah melakukan kontak fisik yang tidak pantas secara agresif hingga menyasar area sensitif.

“Pokoknya aku tidur nyenyak. Terus aku ke-distract karena dia elus tangan aku, nyium muka aku di bagian mata, jari dia megang bibir aku sambil dimainin bibir akunya. Tangan satunya masuk ke dalam baju aku, bener-bener masuk ke dalam,” urai korban menggambarkan situasi yang membuatnya syok hebat.

Dalam kondisi tertekan dan tidak mampu bergerak, korban berpura-pura tetap tertidur hingga menemukan celah untuk melepaskan diri. Kendati sempat ditahan oleh terduga pelaku, korban berhasil melarikan diri keluar dari ruangan dalam keadaan tubuh gemetar hebat.
 
Ia kemudian menemui rekan sekolahnya berinisial K di lapangan, sebelum akhirnya dievakuasi ke ruang Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) untuk ditenangkan.
 
Baca Juga: Wali Kota Bekasi Bakar Semangat Lansia, Dorong Tetap Aktif Berkarya dan Bahagia

Pasca-kejadian tersebut, tangkapan layar percakapan yang dikirimkan terduga pelaku kepada korban juga merembes ke publik. Dalam pesan elektronik itu, terduga pelaku menyampaikan permohonan maaf dan membujuk korban agar tidak melaporkan perbuatannya kepada pihak luar.

“Maafkan ayah ya sayang. Kalau ayah salah atau enggak suka, (nama korban) lebih baik bilang atau tegur ayah,” tulis pesan berulang tersebut. “Ayah lebih senang seperti itu, tidak usah ngomong sama orang lain, kita coba selesaikan bersama.”

Mendapati eskalasi massa siswa yang kian tidak terkendali, personel Kepolisian Sektor (Polsek) Pamanukan bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian guna mengamankan oknum guru tersebut dari amukan yang lebih besar.

Kapolsek Pamanukan, AKP Udin Awaludin, membenarkan langkah pengamanan darurat yang diambil institusinya.
 
Baca Juga: Asap Hitam Menyembur dari Bawah Tanah, Warga Pasar Baru Panik Berhamburan
 
“Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, oknum guru tersebut sudah kita amankan dan sudah kita mintai keterangan,” ujar AKP Udin Awaludin.

Guna penanganan hukum lebih lanjut dan spesifik, pihak Polsek Pamanukan telah melimpahkan penanganan perkara serta pemeriksaan terduga pelaku ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal Polres Subang.
 
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen SMAN 1 Pamanukan masih memilih bungkam dan belum memberikan keterangan resmi terkait aksi demonstrasi massal siswa maupun dugaan kasus pelecehan yang mencoreng institusi pendidikan tersebut.

Tags

Terkini