NAWACITAPOST.COM — Pasar kendaraan listrik roda dua di Tanah Air mendadak bergejolak seiring sorotan tajam yang tertuju pada salah satu lini produk elektrifikasi milik Honda.
Mengusung nama besar pabrikan Jepang dan dibanderol dengan harga premium mencapai Rp40 jutaan, Honda EM1 e justru memicu perdebatan sengit di kalangan pecinta otomotif akibat spesifikasi performa yang dinilai sangat terbatas serta laju depresiasi harga bekas yang tergolong ekstrem.
Berdasarkan data spesifikasi resmi dari Astra Honda Motor (AHM), skutik ramah lingkungan ini dipasarkan mulai dari angka Rp40 juta.
Kendati menyasar segmen kelas atas, motor listrik tersebut hanya sanggup dipacu hingga kecepatan maksimal 45 km/jam dengan jarak tempuh tersertifikasi sejauh 41,1 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Kesenjangan mencolok antara harga dan kemampuan teknis ini kian terasa dramatis saat disandingkan dengan jajaran skutik konvensional berbasis bahan bakar minyak.
Di platform pemasaran resmi AHM, Honda PCX160 ditawarkan mulai Rp35 juta, sementara Vario Evo 160 dilepas seharga Rp28,525 juta.
Kenyataan bahwa harga EM1 e melampaui banderol PCX160 memantik pertanyaan spekulatif di tengah publik: apakah produk ini merupakan blunder terbesar pabrikan asal Negeri Sakura tersebut di pasar otomotif nasional?
Dilema efisiensi semakin mengemuka apabila membandingkan EM1 e dengan lini kendaraan listrik Honda lainnya.
Model ICON e: dijual dengan banderol jauh lebih terjangkau, yakni mulai Rp28 juta, namun sanggup menembus kecepatan 55 km/jam dan jarak tempuh 53 kilometer.
Artinya, terdapat selisih harga mencapai Rp12 juta di mana EM1 e yang lebih mahal justru memiliki performa operasional yang berada di bawah saudaranya tersebut.
Sementara itu, varian tertinggi CUV e: dibanderol Rp54,45 juta dengan kapabilitas kecepatan hingga 83 km/jam serta daya jelajah mencapai 80,7 kilometer.
Dari dapur pacu, Honda EM1 e digerakkan oleh motor listrik berdaya maksimum 1,7 kW. Sumber energinya mengandalkan baterai Honda Mobile Power Pack e: yang dirancang dengan sistem lepas-pasang (swappable).
Untuk mengisi daya dari kondisi kosong hingga penuh (0–100%), dibutuhkan durasi pengisian sekitar enam jam, sedangkan proses pengisian daya cepat dari 25 hingga 75 persen memerlukan waktu kisaran 160 menit.
Kendati Honda mengklaim kendaraan ini dirancang khusus untuk memenuhi mobilitas kawasan perkotaan, batasan kecepatan 45 km/jam dinilai menempatkan EM1 e pada zona penggunaan yang amat terbatas.
Konsumen yang merogoh kocek hingga Rp40 juta dinilai cenderung membandingkannya secara kritis dengan keunggulan kecepatan, fleksibilitas jarak, serta kemudahan infrastruktur pengisian BBM pada motor konvensional.
Tak berhenti pada isu spesifikasi, tekanan terhadap performa pasar EM1 e makin terakselerasi di pasar kendaraan bekas.
Hasil pemantauan pada platform jual-beli digital OLX menunjukkan deretan unit bekas keluaran 2024 ditawarkan pada kisaran harga Rp17,9 juta hingga Rp26 juta.
Bahkan, ditemukan pula listing unit keluaran 2026 yang dipasangi harga penawaran Rp20 juta.
Angka penawaran terendah sebesar Rp17,9 juta tersebut merepresentasikan penurunan nilai asset yang dramatis, yakni hanya menyisakan sekitar 45 persen dari harga baru resminya.
Walau nilai penawaran seller belum tentu mencerminkan harga transaksi final di lapangan, besarnya jarak antara harga baru dan harga penawaran bekas menjadi sinyal kuat tingginya laju depresiasi pada tahun-tahun awal kepemilikan.
Pasar motor bekas kendaraan listrik sendiri dibayangi berbagai pertimbangan krusial, mulai dari penurunan kualitas baterai, sisa masa pakai komponen vital, ketersediaan suku cadang, kepastian layanan purnajual, hingga dinamika penetapan harga unit baru yang terus berfluktuasi secara masif.
Fenomena ini membuktikan bahwa jaringan purnajual raksasa dan reputasi kuat Honda di Indonesia tidak serta-merta menjadi jaminan mutlak bagi sebuah produk untuk mempertahankan nilai jual kembali (resale value).
Pada akhirnya, persepsi konsumen modern tetap ditentukan secara rasional oleh rasio antara nominal harga, fungsionalitas teknologi, keandalan ekosistem baterai, dan efisiensi performa harian.