NAWACITAPOST.COM - Resiko terbesar dari seorang kader partai adalah dipecat jika tidak loyal terhadap perintah partai, apalagi Calon Legislatif (Caleg) yang jadi. Hiruk pikuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) selalu menempatkan caleg jadi sebagai tulang punggung pemenangan bagi seorang calon.
Secara realita, seorang caleg jadi sebenarnya sudah kehabisan darah untuk membangkitkan kekuatan dalam mendukung seorang calon. Karena biaya kampanye yang dihabiskan sudah di atas Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Belum lagi harus mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) partai yang biayanya di atas Rp 5.000.000 (lima juta rupiah), belum lagi apel kader yang pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Baca Juga: Menuju Nganjuk Digdaya, Pasangan Muhibbin - Aushaf Jawabannya
Kondisi tersebut membuat hati dan fikiran caleg jadi hancur berkeping-keping. Itulah resiko politik seorang kader partai. Maka jika seorang Calon Bupati (Cabup) atau Gubernur harus memahami psikologi caleg jadi jika disuruh membantu memenangkan calon kepala daerah. Berikut ini analisisnya:
- Caleg jadi sudah kehabisan energi untuk bangkit melakukan konsolidasi, maka calon harus memberikan support dana agar kader yang diharapkan membantu bisa segera terkonsolidasi.
- Penggalangan dan komunikasi kader adalah seni rupa, maka jika tidak ada dana tidak akan bisa berjalan.
- Caleg jadi tidak bisa dijadikan ujung tombak pemenangan, karena potensi pendukung tidak merata di masing-masing Desa, Dusun atau Tempat Pemungutan Suara (TPS), maka kandidat harus bisa memilih dan memilah.
- Calon pemilih berfikir politik dipahami sebagai pesta, maka fasilitas yang memberi dorongan seseorang untuk mau memilih harus disiapkan.
- Calon tidak terpilih dan calon terpilih sama-sama potensi, maka calon harus pandai-pandai mengambil hati keduanya biar dukungan bisa kita dapatkan.
- Struktur partai harus memahami kondisi calon jadi, maka setiap perintah yang mengandung anggaran harus diperhitungkan.
- Calon jadi adalah manusia biasa, maka keinginan mendapatkan kopi-kopi selalu ada, maka harus memahami kondisi tersebut.
- Perilaku pemilih dipengaruhi oleh rekam jejak, program, isu politik dan visi misi calon, tetapi gizi selalu menempati urutan pertama. Jika gizi tidak siap, maka calon jadi enggan untuk bergerak melakukan konsolidasi.
Baca Juga: Setelah Dapat Rekom Dari Partai Golkar, Berikut Hitungan Potensi Kemenangan Muhibbin - Aushaf
Begitulah perilaku politik saat ini, maka siapapun anda yang ingin menggunakan mesin politik calon jadi, maka harus memahami dan bisa mengambil hati mereka. Politik sebagai komoditas tidak bisa kita elakkan dalam era politik modern sekarang ini.
Sebuah keprihatinan namun itulah yang terjadi, maka menggagas visi yang baik harus disertai gizi yang lebih baik.
Nganjuk, 1 September 2024
Penulis HM Basori M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy
Ikuti dan dapatkan berita terupdate dari Sakera Kakanper PT Media Nawacita Indonesia (MNI) Nganjuk dan Kediri, Jawa Timur, langsung dari ponselmu, pada situs berita www.nawacitapost.com, melalui aplikasi Facebook, silahkan klik disini, dan disini, juga melalui aplikasi Twitter atau X, silahkan klik disini, pastikan dua aplikasi tersebut sudah terinstall pada ponselmu