NAWACITAPOST.COM - Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto, memberikan tanggapan dengan nada santai terkait pemecatan Effendi Simbolon dari keanggotaan partai. Ia menyebut bahwa pertemuan Effendi dengan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu alasan utama pemecatannya.
Ia bahkan berseloroh bahwa situasi mungkin akan berbeda jika pertemuan tersebut terjadi dengan tokoh politik lain, seperti Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan Hasto merujuk pada penjelasan Aryo Seno Bagaskoro, juru bicara PDI-P, yang menegaskan bahwa langkah politik Effendi dianggap tidak sejalan dengan rekomendasi partai.
Dalam penjelasannya, Seno menyoroti bahwa komunikasi Effendi dengan Jokowi sebelum mengambil langkah mendukung pasangan Ridwan Kamil-Suswono pada Pilkada Jakarta 2024 dinilai sebagai bentuk kongkalikong. Hal tersebut melanggar disiplin partai dan tidak dapat ditoleransi.
Seno menjelaskan bahwa pertemuan dengan tokoh politik lain mungkin masih memungkinkan untuk dilakukan klarifikasi atau mediasi terlebih dahulu. Namun, pertemuan Effendi dengan Jokowi dianggap sebagai pelanggaran serius.
Baca Juga: BRI Perluas Digitalisasi Perbankan, BRImo Resmi Hadir di Timor Leste
Bagi PDI-P, tindakan tersebut mencerminkan pembangkangan terhadap garis kebijakan partai. Sebab, PDI-P telah resmi mengusung pasangan Pramono Anung-Rano Karno sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta.
Ketua DPP PDI-P, Djarot Syaiful Hidayat, mengonfirmasi bahwa Effendi telah melanggar kode etik, disiplin, serta anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai. Pemecatan ini berlaku efektif sejak 28 November 2024, seperti yang tercantum dalam surat resmi yang ditandatangani oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto.
Selain itu, Effendi juga dilarang melakukan kegiatan apapun atas nama PDI-P. Effendi sendiri belum memberikan tanggapan resmi mengenai pemecatannya.
Saat dihubungi, ia hanya mengirimkan gambar Paus Fransiskus dengan pesan singkat "semoga tuhan berkati."