NAWACITAPOST.COM - Meningkatnya prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) di kalangan anak-anak semakin menjadi sorotan serius. Fenomena ini dikaitkan dengan kebiasaan anak-anak mengonsumsi jajanan dan makanan olahan secara berlebihan, yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.
Pengamat Kebijakan Publik, Muhammad Gumarang, menilai situasi ini sangat memprihatinkan. Ia juga mendesak pemerintah untuk segera bertindak melalui regulasi yang lebih ketat dalam mengawasi jajanan anak.
"Saya rasa perlu ada regulasi yang ketat untuk mengawasi jajanan ini. Sekarang ini tidak ada regulasi yang mengatur secara tegas," kata Gumarang, dikutip Senin (21/10/2024).
Dalam beberapa bulan terakhir, kasus PTM yang dialami anak-anak mulai mendapat perhatian publik, termasuk di antaranya gagal ginjal dan diabetes. Sebagai contoh, lebih dari 60 anak terdiagnosis gagal ginjal dan harus menjalani terapi di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Baca Juga: Peningkatan Kasus PTM pada Anak, Pemerintah Diminta Perkuat Pengawasan dan Edukasi
Kasus-kasus ini, menurut para ahli, terkait dengan gaya hidup yang melibatkan konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat. Berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), peningkatan kasus diabetes pada anak-anak juga cukup signifikan.
Sejak 2010 hingga 2023, terjadi lonjakan sebesar 70 persen pada kasus diabetes tipe 1 di kalangan anak-anak. Kondisi ini memicu kekhawatiran tentang kebiasaan makan anak-anak yang dinilai kurang sehat dan memerlukan pengawasan lebih ketat dari pemerintah.
Gumarang menyoroti ketidakseimbangan regulasi antara jajanan anak yang kurang bergizi dengan produk susu pertumbuhan. Ia menyatakan bahwa pemerintah telah menerbitkan aturan ketat terkait susu pertumbuhan melalui PP 28 Tahun 2024 tentang kesehatan, tetapi belum ada regulasi yang cukup untuk mengontrol jajanan olahan yang sering dikonsumsi anak-anak.
"Padahal, susu memiliki kandungan gizi yang baik untuk pertumbuhan anak," kata Gumarang.
Pandangan Gumarang didukung oleh dr. William Cheng, seorang dokter spesialis anak. Menurut dr. William, regulasi yang lebih ketat diperlukan, khususnya yang berkaitan dengan pemberian label pada produk makanan olahan.
Baca Juga: Khofifah Indar Parawansa Siap Jadikan Jawa Timur Lumbung Logistik Nasional
Label tersebut akan membantu orang tua memahami kandungan nutrisi dalam jajanan yang dikonsumsi anak-anak mereka, seperti kadar gula dan garam yang sering kali melebihi batas wajar.
Labeling produk makanan sudah diterapkan di banyak negara, sehingga masyarakat bisa lebih cerdas dalam memilih. Di sana ada penanda gizi seperti grading atau klasifikasi nutrisi.
"Sayangnya, Indonesia belum menerapkan hal tersebut secara menyeluruh," jelas dr. William.