NAWACITAPOST.COM - Pulau Bali kembali mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata favorit dunia pada tahun 2024, menurut berbagai lembaga pariwisata internasional. Status ini tak hanya membuat Bali diminati wisatawan, tetapi juga menjadi magnet bagi investasi asing (FDI).
Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa pada semester pertama 2024, aliran FDI ke Bali mencapai 710,2 juta dollar AS (Rp 10,7 triliun), setara dengan 87 persen dari total FDI tahun 2023 sebesar 808,49 juta dollar AS (Rp 12,2 triliun).
Peningkatan signifikan ini menegaskan bahwa Bali masih menarik minat investor asing, terutama di sektor pariwisata dan properti. Salah satu perusahaan yang ikut memanfaatkan momentum ini adalah PT Metropolitan Land Tbk (Metland), yang mempercepat pembangunan Venya Villa Ubud, sebuah proyek hunian eksklusif di kawasan Ubud, Bali.
Direktur PT Metropolitan Land Tbk, Wahyu Sulistio, menyatakan bahwa tingginya arus FDI ke Bali menjadi peluang bagi Metland untuk menyelesaikan pembangunan tahap pertama Venya Villa Ubud. Proyek ini sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, namun kini kembali dilanjutkan.
Baca Juga: Paradiso Golf Villas Jababeka: Hunian Asri dengan Fasilitas Lengkap di Timur Jakarta
"Tahap pertama terdiri dari 19 unit vila dari total 54 unit yang akan dikembangkan di atas lahan seluas 2 hektar," jelas Wahyu.
Vila-vila tersebut memiliki luas antara 60 hingga 140 meter persegi dan dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 4 miliar per unit. Selain itu, Metland juga telah mengoperasikan 21 suite di lokasi yang sama, dengan tarif sewa per malam mencapai Rp 1,7 juta.
Metland Venya Ubud menawarkan berbagai fasilitas mewah, termasuk kolam renang, bar, kapel pernikahan, restoran, dan ruang kerja bersama. Nama Metland Venya Ubud dipilih sebagai bagian dari strategi Metland untuk memperkuat merek di bawah payung Metland Hotel Group, yang akan mengelola berbagai properti hotel milik perusahaan tersebut.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali meningkat pesat. Pada periode Januari hingga Juli 2024, tercatat 3,55 juta wisatawan asing mengunjungi Bali, naik 22,7 persen dari tahun sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan prospek cerah bagi sektor pariwisata dan properti mewah di Bali.
Baca Juga: Pulihkan Nama Baik Soekarno, MPR Hapus TAP MPRS 1967
Venya Villa Ubud menargetkan pasar internasional dengan proyeksi Return on Investment (ROI) yang menarik, yakni 8-12 persen per tahun. Bahkan, Metland menjamin ROI sebesar 8 persen pada dua tahun pertama. "Investor akan menikmati pembagian pendapatan 40 persen, sementara 60 persen sisanya untuk pengelola," tambah Wahyu.
Dengan kepemilikan long leased selama 25 tahun, Venya Villa Ubud memberikan peluang investasi berkelanjutan. Wahyu optimistis target penjualan Rp 40 miliar yang akan dimulai pada Oktober 2024 dapat tercapai, terutama dengan potensi sewa tahunan yang diproyeksikan tetap stabil dan terus meningkat.
Pertumbuhan sektor properti di Bali juga didukung oleh pembangunan infrastruktur yang terus berkembang. Tol Gilimanuk-Mengwi, serta proyek MRT dan LRT yang menghubungkan Jakarta ke Bali, diprediksi akan semakin memudahkan akses ke pulau ini, sehingga menambah daya tarik bagi investor dan wisatawan.
Dengan semua faktor ini, tak heran jika Bali, khususnya kawasan Ubud, tetap menjadi primadona bagi investor asing. Kehadiran proyek seperti Venya Villa Ubud hanya akan semakin memperkuat posisi Bali sebagai pusat investasi properti mewah di Asia.