nasional

PMI Manufaktur Melonjak 52,4, Menkeu Suahasil Nazara Tegaskan Industri Nasional Kian Perkasa

Jumat, 9 Oktober 2026 | 18:56 WIB
Dokumentasi Konferensi pers Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Jumat (9/10/2026). (Dok. Kementerian Keuangan)

NAWACITAPOST.COM — Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan taji di kancah global setelah berhasil mencatatkan lonjakan impresif pada indikator Purchasing Managers Index (PMI).
 
Aktivitas industri nasional secara meyakinkan melesat hingga menyentuh level 52,4 pada September 2026, menegaskan posisi Indonesia yang terus berada di zona ekspansi sekaligus membendung bayang-bayang ketidakpastian ekonomi dunia.

Penguatan tajam ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers APBN Kita yang digelar di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
 
Baca Juga: Prahara Syarat Pendidikan Gibran, PDIP Desak DPR Buka Opsi Impeachment
 
Dalam kesempatan tersebut, Suahasil memaparkan performa solid sektor riil domestik yang tidak hanya bertumbuh tangguh, tetapi juga berjalan selaras dengan gelombang ekspansi manufaktur global.
 
Suahasil Nazara Menteri Keuangan Republik Indonesia. (Dok. Kementerian Keuangan)

Di hadapan media, Menkeu Suahasil Nazara menegaskan bahwa capaian PMI di atas batas netral 50 merupakan sinyal kuat bahwasanya laju mesin produksi nasional sedang melaju kencang.
 
Ia optimistis momentum positif ini bakal terus terjaga secara konsisten guna memperkokoh daya saing industri nasional di arena internasional.
 
Baca Juga: Taruhan Nyawa di Atas Aspal: Kenali Tanda Ban Motor Wajib Dipensiunkan

“Di Indonesia PMI manufakturnya juga meningkat ke 52,4, yang kalau kita tahu selama angkanya di atas 50 berarti ini ada indikasi ekspansi manufaktur,” ungkap Menkeu.
 
 
 
 
 

Ketangguhan ekonomi Indonesia kian kontras saat disandingkan dengan dinamika global. Berdasarkan peta data PMI manufaktur akhir September 2026, sebanyak 75 persen negara di dunia berhasil bertahan di fase ekspansi dengan indeks di atas level 50.
 
Sementara itu, 25 persen negara lainnya harus berjuang menghadapi tekanan konstraksi akibat indeks yang merosot di bawah angka 50.
 
Baca Juga: Buntut Kabut Asap Pekat, Bandara SMB II Palembang Lumpuh dan 15 Penerbangan Terganggu

Melihat konstelasi tersebut, Menkeu Suahasil Nazara menyuarakan keyakinannya terhadap daya tahan fundamental industri dalam negeri yang tetap stabil dan aman di zona positif.
 
 
 
 
 

“Meskipun tiap bulan angka ini berubah-ubah, tapi kita cukup comfortable untuk angka Indonesia itu ada di sisi 52,4 atau ekspansi,” jelas Menkeu.

Lompatan performa manufaktur tanah air ini dipicu oleh akumulasi empat akselerator utama yang bergerak simultan:
 
Baca Juga: Gempur Peredaran Rokok Ilegal, Kanwil Bea Cukai Jatim II Gelar Edukasi Masif

  • Lonjakan Permintaan Domestik: Gelombang permintaan dari dalam negeri yang semakin solid memaksa para pelaku industri menggenjot kapasitas produksi barang dan jasa, tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pasar domestik tetapi juga melayani arus pesanan ekspor.
  • Geliat Penyerapan Tenaga Kerja: Sektor ketenagakerjaan kembali bergeliat ekspansif. Peningkatan penumpukan pesanan (backlog) menjadi indikator nyata bahwa industri memacu rekrutmen untuk memenuhi permintaan pasar yang terus membludak.
  • Agresivitas Stok Bahan Baku: Pelaku usaha secara masif meningkatkan volume pembelian serta persediaan bahan baku sebagai langkah strategis mengantisipasi lonjakan target produksi di masa depan.
  • Melandainya Tekanan Harga: Dinamika harga input maupun output yang kian terkendali memberikan ruang napas dan kepastian bagi pelaku industri dalam mengambil keputusan bisnis secara presisi.

Baca Juga: Gempur Penyelundupan di Perairan Kepri, Bea Cukai Batam Gagalkan Rokok Ilegal Rp2,53 Miliar

Suahasil Nazara menyoroti secara khusus manuver para pengusaha yang secara agresif mulai mengamankan pasokan rantai pasok sebagai cerminan tingginya rasa percaya diri terhadap prospek pasar ke depan.

“Pengusaha itu kalau dia beli dan stok input, itu karena dia memikirkan bahwa produksi akan naik. Permintaan akan meningkat, saya akan harus produksi lebih banyak,” jelas Menkeu.

Langkah berani sektor usaha tersebut, lanjut Suahasil, direspons secara terukur di tengah tren pergerakan harga yang semakin stabil dan kondusif bagi iklim investasi manufaktur tanah air.

“Harga input ada melandai dikit, harga output juga agak melandai. Tapi imbangan ini direspon oleh pengusaha dengan melakukan pembelian dan stok input yang meningkat,” pungkas Menkeu.

Tags

Terkini