NAWACITApost.com - Kasus perundungan atau bullying yang semakin banyak di Indonesia menjadi masalah serius yang harus segera di atasi terutama di area sekolah.
Kasus bullying paling banyak terjadi di area lingkungan sekolah. Tidak jarang dampak dari bullying mengakibatkan kematian.
Baru-baru ini kasus bullying yang menyita perhatian publik terjadi di Cilacap, Jawa Tengah yang melibatkan anak SMP 2 Cimanggu.
Video bullying yang tersebar di media sosial memperlihatkan sekelompok remaja yang memukul hingga membanting temannya sampai korban tidak berdaya dan hanya bisa menangis.
Kejadian ini sangat miris, banyak anak yang nekat dan agresif untuk melakukan bullying terhadap temannya sendiri tanpa memperhatikan dampaknya.
Dampak dari bullying tidak bisa dianggap sepele, karena banyak korban bullying yang depresi bahkan dapat memicu tindakan bunuh diri.
Maraknya kasus bullying di sekolah menjadi perhatian KPAI untuk terus melakukan monitoring dan pengawasan pada sejumlah pengaduan maupun sistem pendidikan.
"Anak berkonflik dengan hukum jangan sampai dikeluarkan dari sekolah selama menjalani proses pemeriksaan dan penyidikan hingga peradilan," kata Anggota KPAI Diyah Puspitarini dalam keterangan, di Jakarta, Senin (2/10/2023).
Selain menangani konflik hukum di lingkungan sekolah, perhatian khusus juga harus diberikan kepada anak-anak saksi dan semua siswa yang terlibat terutama pemulihan trauma.
Upaya yang berfokus pada dukungan psikologis dan emosional akan membantu anak-anak pulih dengan lebih cepat dan efektif.
Selain pemulihan trauma, pendidikan mengenai pencegahan perundungan juga sangat penting dalam menangani konflik di sekolah. Menyadari dampak negatif dari perundungan dan memberikan pemahaman yang jelas kepada siswa tentang konsekuensinya