Minggu, 19 Juli 2026

Petani dan Ketahanan Pangan

Photo Author
Agus Irawan, Nawacita Post
- Rabu, 23 November 2022 | 21:28 WIB

Jakarta, Nawacitapost- Suherman TRD
Founder & CEO TRD Corporation mengatakan, saat Covid-19 sedang puncak di Indonesia, tentu kita masih ingat banyak orang yang berlomba-lomba menumpuk makanan diluar kebutuhannya. Efek dari penumpukan makanan ini tidak hanya langkanya barang-barang di pasaran, tetapi naiknya harga barang beberapa kali lipat dari harga pasar.

Psikologis dari kemewahan yang kita miliki saat situasi sedang stabil dan aman, berbeda pada saat terjadi krisis dan bencana. Kebutuhan yang terpenting pada saat itu adalah memenuhi kebutuhan pokok, dari pada menumpuk sesuatu yang tidak mungkin dipertukarkan dengan makanan.
Oleh karena itu, Covid-19 menjadi evaluasi untuk kesembongan kita yang menganggab sektor pertanian biasa-biasa saja.

Ini ditunjukkan dengan tidak banyaknya yang menjadikan bidang ini sebagai pilihan yang menarik sebagai profesi. Padahal, nasib penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 275 juta-an tergantung dari ketersedian makanan pokok yang diproduksi oleh petani jika ingin pertahanan Indonesia aman dan stabil.

Pada saat situasi dunia sedang baik-baik saja, impor mungkin saja masih jadi alternatif bagi sebagian negara, termasuk Indonesia jika di dalam negeri kekurangan ketersedian bahan pokok. Namun, Covid-19 menyadarkan kita bahwa pada saat situasi krisis, negara pengekspor akan lebih memilih untuk memaksimalkan kebutuhan dalam negeri. Artinya, peningkatan dan pengembangan pertanian Indonesia kedepannya tidak boleh berhenti. Situasi dunia yang sulit dipredikasi, apalagi Covid-19 yang disambut oleh Perang Rusia-Ukraina akan menjadikan situasi serba sulit

Sektor Pertanian ini sangat penting untuk diperhatian oleh pemerintah dan swasta, jika tidak ingin krisis yang lebih lama membuat kita menyesal atas kelalain dalam memperhatikan bidang ini. Prof. Zun Peneliti Pertanian di salah satu University Venezuela dan juga pemegang nabel dari PBB mengatakan bahwa sektor pertanian pasti akan tergilas kalau tidak ada perhatian yang tinggi dari pemeritah dalam suatu negara agraris. Bila pada titik itu ada bencana, maka barulah kita sadar betapa pentingnya bahan makanan yang dihasilkan oleh sektor pertanian.
Pengembangan Sektor Pertanian
Pengembangan sektor pertanian Indonesia kedepannya tentu akan bergantung pada teknologi dan generasi penerus khususnya anak muda. Pemerintah telah menargetkan akan menjadikan Indonesia sendiri sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045. Untuk mencapai visi tersebut, pemerintah menyusun beberapa kebijakan untuk menjaga kestabilan rantai ketahanan pangan nasional.
Pertama, melalui UU Cipta Kerja pemerintah sudah melakukan penyederhanaan, percepatan, kepastian, perizinan hingga persetujuan terkait ekspor dan impor. Kedua, memberdayakan digitalisasi UMKM sebagai bentuk transformasi digital. Ketiga, pemerintah bersinergi bersama dengan BUMN untuk mendistribusikan hasil pertanian melalui pengembangan sistem logistik terpadu.
Peran sektor pertanian sebagai penyelamat ekonomi nasional dirasakan saat krisis Covid-19. Hal ini merupakan pemancing bagi pengambil kebijakan bahwa sektor pertanian masih strategis dan tidak ada lagi alasan untuk mengabaikan penguatan pertanian, meskipun di balik peran krusial pertanian itu terdapat masalah lain—tetapi kebutuhan pangan ini harus masuk dalam agenda strategis.
Oleh karena itu, perlu diterapkan integrasi yang menyeluruh dari hulu sampai hilir, dari budidaya sampai pemasaran serta dukungan dari sektor di luar pertanian. Integrasi ini dimungkinkan terwujud dalam agribisnis modern. Pada saat jumlah penduduk Indonesia kurang dari 100 juta jiwa, cara konvensional masih aman. Sekarang, penduduk Indonesia sudah 273 juta jiwa. Kalau masih menggunakan cara konvensional, produksi pertanian kita tidak mungkin mencukupi pangan 273 juta jiwa tersebut.

Pada saat ini, kita sudah memasuki era 4.0, dimana segala sesuatunya otomatis. Demi meningkatkan produksi pertanian, maka digitaliasi dibidang pertanian perlu dikembangkan. Sudah saatnya petani menggunakan teknologi dari hulu hingga hilir. Dari hulu memilih benih dan bibit yang berkualitas cukup menggunakan robot. Berbicara mengenai ukuran benih, robot bisa menyeleksi benih yang bagus.
Setelah produksinya berjalan dengan lancar, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah membangun kolaborasi dengan seluruh offtaker, bayer, eksportir, foundation yang menyediakan dana, dan perbankan.

Langkah ini akan menjadikan pertanian tidak hanya menjadi profesi yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan tetangga, tetapi juga banyak orang. Dengan adanya kolaborasi yang baik maka menjadi petani tidak hanya menjadi profesi alterantif, tetapi juga keinginan bagi banyak anak muda.

Mimpi ini secara perlahan telah saya mulai di daerah Jorong Tanjung Modang Pauh Tinggi Nagari Tanjung Bonai Lintau, Sumatera Barat. Saya menyiapkan lahan lebih kurang 20 Hektar dengan membangun TRD Agroindustri, TRD Mart, TRD Institute dan lainnya, sehingga selain menjadi tempat riset, tempat ini juga memberikan lapangan kerja dan penguatan ekonomi masyarakat.
Dunia pertanian harus menjadi tempat riset, sehingga petani melihat potensi dari profesi yang sedang ditekuni ini tetap menjanjikan untuk dilanjutkan oleh anak-anaknya. Perubahan dan adaptasi yang memanfaatkan teknologi, pengetahuan, dan media menjadikan petani tidak hanya soal kepentingan regenerasi di dunia pertanian, tetapi juga masa depan pertahanan dan ketahanan ekonomi Indonesia. Sekian.

 

 

Editor: Agus Irawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini