Minggu, 5 Juli 2026

Mengenal Cornelis Chastelein: Satu-satunya Dalam Sejarah, Tuan Tanah Bagikan Tanah Warisan ke Budak-budaknya

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Jumat, 12 Juli 2024 | 10:20 WIB
 Cornelis Chastelein (X)
Cornelis Chastelein (X)

NAWACITAPOST.COM - Nama Cornelis Chastelein mungkin tidak begitu dikenal di zaman sekarang, tetapi pada masanya, ia adalah seorang tokoh yang sangat berpengaruh. Ia dikenal terutama bagi keturunan kaum mardijkers atau mereka yang dikenal sebagai "Belanda Depok".

Pada tanggal 28 Juni 1714, seorang tuan tanah kaya bernama Chastelein itu meninggal di Batavia atau Jakarta pada saat ini. Chastelein adalah sosok yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Depok.

Pada tahun 1696, ia membuka kegiatan produktif di tanah Depok. Ia membuka lahan pertanian dan perkebunan yang menghidupkan komunitas setempat, yang mulanya terdiri dari para budak yang dimerdekakan. Langkah ini sangat tidak lazim pada zamannya.

Menurut Yano Jonathans, salah satu keturunan budak Chastelein dan penulis buku Depok Tempo Doeloe (2011), Chastelein berbeda dari orang-orang VOC sezamannya karena ketaatannya pada ajaran Protestan. Ia hidup dengan semboyan "Er is geen leven zonder liefde" atau "tiada kehidupan tanpa kasih sayang."

Baca Juga: Kejutan dari Golkar, M Shoim Haris SIap Turun di Pilbup Malang 2024

Beberapa bulan sebelum meninggal, Chastelein menulis wasiat yang memerdekakan seluruh budaknya. Dalam wasiatnya, ia menulis, “Berikoet lagi akoe memardahekakan samoewa boedak-boedakkoe Christen laki-laki dan prampoewan beserta anak-anak dan tjoetjoe-tjoetjoenja jang sekarang soedah ada dan djoega jang nanti diperanakkan."

Budak-budak ini, yang kemudian terbagi dalam 12 marga utama, mengembangkan komunitas yang menjadi cikal bakal Kota Depok modern. Chastelein mewariskan tiga persil tanah kepada mereka yang meliputi Depok, Mampang, dan Karanganyar (kini Cinere).

Chastelein sangat tegas dalam wasiatnya bahwa seluruh tanah bernilai 700 ringgit itu “akan dipoenjai dan dipakai oleh boedak-boedakkoe mardaheka jang terseboet diatas beserta dengan toeroen-temoeroennja sampai selama-lamanja.” Ia berharap tanah perkebunan itu dapat menunjang kesejahteraan mereka.

Namun, ia juga mewanti-wanti bahwa tanah itu tidak boleh dijual, digadaikan, atau dipindahkan haknya kepada orang lain. Selain itu, sebagai penganut Protestan yang taat, ia melarang perjudian, madat, dan perbuatan cabul di lingkungan tanah warisannya.

Baca Juga: Profil Eman Sulaeman: Hakim yang Memutus Bebas Pegi Setiawan dalam Kasus Pembunuhan Vina Cirebon

Sebagai bentuk penghormatan atas kebaikan Chastelein, keturunan mardijkers menggelar syukuran setiap tanggal kematiannya sejak 1892, yang dikenal sebagai “Chastelein Dag” atau “Depoksche Dag.” Syukuran ini melibatkan upacara di depan Gemeentehuis (sekarang RS Harapan) dan ibadah di gereja yang dihadiri oleh berbagai komponen masyarakat.

Cornelis Chastelein lahir di Amsterdam pada 10 Agustus 1657, dari keluarga Protestan yang hijrah dari Perancis karena konflik agama. Ia meniti karier di VOC sejak usia 17 tahun dan mencapai posisi Opperkoopman atau Saudagar Utama VOC.

Namun, karena tidak cocok dengan gaya pemerintahan Willem van Outhoorn, Chastelein memilih undur diri dari VOC pada 1691. Ia kembali ke VOC setelah Outhoorn lengser pada 1704 dan menjabat sebagai anggota dewan di Raad van Indie hingga meninggal pada 1714.

Sebagai pegawai VOC, Chastelein menerima gaji besar yang digunakannya untuk membeli tanah di selatan Batavia. Pada 1693, ia membeli tanah di Weltevreden (kini Gambir, Pejambon, dan Pasar Senen) dan mengembangkan perkebunan tebu. Ia juga menjadi salah satu tuan tanah yang pertama kali mencoba mengembangkan perkebunan kopi di Hindia.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini