Minggu, 19 Juli 2026

Menaker Tekankan Kepedulian sebagai Kunci Hubungan Industrial dan Keselamatan Mudik

Photo Author
Restu Zebua, Nawacita Post
- Jumat, 20 Maret 2026 | 13:42 WIB
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli (Foto: Biro Humas Kemnaker)
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli (Foto: Biro Humas Kemnaker)

NAWACITAPOST.COM — Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa hubungan industrial ideal harus dibangun di atas rasa kepedulian antara manajemen dan pekerja, bukan sekadar pemenuhan hak-hak normatif. Hal ini disampaikannya saat melepas program mudik gratis bagi pekerja/buruh PT Pamapersada Nusantara di Jakarta Timur, Rabu (18/3/2026).

Menurutnya, hubungan industrial yang sehat tidak hanya berfokus pada upah, regulasi kerja, atau pemenuhan hak pekerja. Lebih dari itu, dibutuhkan keterlibatan aktif dan rasa saling peduli antara manajemen dan pekerja agar perusahaan dapat berkembang kuat sekaligus membuat pekerja merasa dihargai.

Ia mengibaratkan hubungan tersebut seperti dua roda gigi yang harus bergerak bersama. Jika hanya satu pihak yang berperan aktif, hasilnya tidak akan optimal. Namun, jika keduanya berjalan seiring, perusahaan dapat melaju lebih cepat. Kondisi ideal inilah yang ingin diwujudkan, ketika manajemen memperhatikan kesejahteraan pekerja dan pekerja turut berkontribusi meningkatkan produktivitas perusahaan.

Lebih lanjut, Yassierli menilai program mudik gratis bukan sekadar penyediaan transportasi, melainkan wujud nyata kepedulian perusahaan terhadap pekerja. Bagi pekerja, mudik tidak hanya soal pulang kampung, tetapi juga kesempatan berkumpul dengan keluarga secara aman dan nyaman saat Lebaran. Ia pun mengapresiasi perusahaan yang memfasilitasi program tersebut sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan pekerja di momen penting.

“Program ini menunjukkan bahwa dunia usaha tidak hanya mengejar target, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pekerja. Pemerintah tentu mendukung inisiatif seperti ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti aspek keselamatan selama arus mudik, khususnya bagi pengemudi dan kernet. Ia menyebutkan dua faktor utama penyebab kecelakaan, yakni kondisi kendaraan dan faktor pengemudi. Karena itu, kesiapan fisik dan mental pengemudi menjadi hal yang sangat krusial.

Baca juga: Kemnaker Fasilitasi Mudik Gratis untuk 12.690 Pekerja dan Ojol, Perkuat Keselamatan dan Pengawasan THR 2026

Tahun ini, Kementerian Ketenagakerjaan bekerja sama dengan Perhimpunan Ergonomi Indonesia serta sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi dan kernet bus di enam wilayah. Pemeriksaan tersebut mencakup tes kesehatan serta uji kewaspadaan berbasis komputer guna memastikan para pengemudi berada dalam kondisi prima saat bertugas.

Yassierli menjelaskan bahwa pihaknya memiliki alat yang mampu mengukur tingkat kewaspadaan pengemudi hanya dalam waktu sekitar lima menit. Dari hasil tersebut dapat diketahui apakah pengemudi benar-benar dalam kondisi siap atau tidak.

Ia juga mengungkapkan bahwa rendahnya kewaspadaan pengemudi umumnya disebabkan kurangnya waktu istirahat. Hal ini kerap dianggap sepele, padahal berdampak besar terhadap konsentrasi dan meningkatkan risiko kecelakaan.

“Sering kali pengemudi merasa cukup istirahat, padahal setelah diuji, tingkat kewaspadaannya rendah. Setelah ditelusuri, mereka hanya tidur dua hingga tiga jam. Ini yang menjadi perhatian serius,” jelasnya.

Ia pun mengimbau para pengemudi angkutan umum untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan waktu istirahat sebelum bekerja, mengingat keselamatan penumpang sangat bergantung pada kesiapan mereka.

Editor: Restu Zebua

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini