Kamis, 18 Juni 2026

BMPTKKI Audiensi kepada Imam Besar Masjid Istiqlal/ Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar

Photo Author
Restu Zebua, Nawacita Post
- Rabu, 11 Maret 2026 | 12:53 WIB
Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia melakukan audiensi dengan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. (Foto: BMPTKKI)
Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia melakukan audiensi dengan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. (Foto: BMPTKKI)

NAWACITAPOST.COM — Pengurus Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI) melakukan audiensi dengan Menteri Agama Republik Indonesia yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (9/3/2026). Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi keagamaan Kristen dengan Kementerian Agama dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia.

Audiensi ini digelar setelah rangkaian kegiatan Rapat Umum Anggota Tahunan (RUAT) dan Konvensi Injil Sekolah Tinggi Teologi se-Indonesia (KISSTTI) yang diselenggarakan BMPTKKI pada 5–7 Maret 2026 di Jakarta. Kehadiran para pimpinan sekolah tinggi teologi dari berbagai wilayah di Indonesia mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat kontribusi pendidikan teologi bagi pembangunan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum BMPTKKI Prof. Dr. Stevri I. Lumintang menyampaikan bahwa organisasi yang berdiri sejak tahun 2018 itu saat ini menaungi sekitar 217 perguruan tinggi teologi di Indonesia. Ia juga memperkenalkan jajaran pengurus BMPTKKI yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Papua hingga Sumatera, sebagai representasi keberagaman lembaga pendidikan teologi di tanah air.

Stevri menjelaskan kepada Menteri Agama bahwa BMPTKKI aktif mengembangkan kajian teologi yang relevan dengan isu kebangsaan dan kemanusiaan. Salah satu bentuknya adalah penerbitan buku berjudul “Teologi Tanah Air: Ekoteologi Kristen bagi Keadilan, Keberlanjutan, dan Kebangsaan”, yang membahas tanggung jawab iman Kristen dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Buku tersebut sebelumnya telah diserahkan kepada Menteri Agama pada Perayaan Natal Kementerian Agama pada Desember 2025.

Selain itu, BMPTKKI juga telah menyelesaikan karya ilmiah berjudul “Teologi & Kurikulum Cinta Berbeda Agama dan Kepercayaan”, yang dipersembahkan sebagai bentuk penghargaan kepada Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Buku ini bertujuan mendorong semangat cinta kasih dan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Menurut Stevri, karya tersebut diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dalam memperkuat dialog lintas iman, moderasi beragama, serta membangun kehidupan beragama yang damai. Peluncuran sekaligus penyerahan buku tersebut direncanakan setelah bulan suci Ramadhan.

Dalam audiensi tersebut, pengurus BMPTKKI juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, atas dukungan yang selama ini diberikan kepada perguruan tinggi keagamaan Kristen. Dukungan tersebut dinilai penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan teologi dan mendorong pengembangan riset akademik.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan sejarah serta filosofi pembangunan Masjid Istiqlal sebagai simbol persatuan dan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa rumah ibadah seharusnya menjadi ruang yang memancarkan nilai-nilai kemanusiaan universal serta menjadi tempat tumbuhnya semangat toleransi dan kebersamaan antarumat beragama.

Sebelum bertemu Menteri Agama, rombongan BMPTKKI terlebih dahulu disambut oleh Kepala Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat Badan Pengelola Masjid Istiqlal periode 2024–2028, Dr. Abu Huraerah Abdul Salam, Lc., MA. Dalam penjelasannya, ia memaparkan sejarah panjang pembangunan Masjid Istiqlal yang diinisiasi oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno bersama para tokoh ulama, termasuk KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama pertama RI.

Masjid negara tersebut mulai direncanakan pada tahun 1950 sebagai simbol rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia—“istiqlal” yang berarti kemerdekaan—dan dibangun di atas bekas benteng Belanda Taman Wilhelmina. Arsitek yang merancang masjid ini adalah Frederich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen yang memenangkan sayembara desain dengan konsep bertema “Ketuhanan”.

Proses pembangunan Masjid Istiqlal berlangsung cukup lama dan menjadi proyek gotong royong nasional yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satu kontribusi datang dari masyarakat Aceh yang pada tahun 1962 menyumbangkan 1,5 kilogram emas murni melalui Presiden Soekarno. Selain itu, Jemaat Ahmadiyah juga tercatat sebagai penyumbang dana pada awal pembangunan, disertai partisipasi masyarakat umum serta perusahaan swasta. Bendahara pembangunan masjid adalah dr. Lie Kiat Teng (Mohammad Ali), tokoh Muslim keturunan Tionghoa yang pernah menjabat Menteri Kesehatan pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo (1953–1955).

Secara arsitektural, Masjid Istiqlal dirancang dengan konsep modern dan disebut sebagai salah satu bangunan awal yang menerapkan prinsip green building. Kubah utamanya berdiameter 45 meter, melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia 1945, sementara menaranya setinggi 66,66 meter. Masjid ini memiliki 12 tiang utama yang melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, serta lima lantai ruang ibadah yang merepresentasikan lima rukun Islam dan lima sila Pancasila.

Lokasi Masjid Istiqlal yang berada dalam satu garis dengan Istana Merdeka, Monumen Nasional (Monas), Gereja Katolik Katedral Jakarta, dan GPIB Immanuel juga menjadi simbol kuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Dalam perjalanan sejarahnya, Masjid Istiqlal pernah mengalami dua peristiwa pengeboman, yakni pada 14 April 1978 di mimbar masjid dan pada 19 April 1999 di area ruang bawah tanah.

Pada masa renovasi besar-besaran beberapa tahun terakhir, dibangun sebuah terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katolik Katedral Jakarta, yang dikenal sebagai Terowongan Silaturahim. Terowongan tersebut diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto dan menjadi simbol nyata toleransi serta persaudaraan antarumat beragama di Indonesia.

Halaman:

Editor: Restu Zebua

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini