NAWACITAPOST.COM – Bedah buku Kiai Sadrach – Sebuah Perjalanan Kristen Jawa yang digelar di Kantor Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) pada Kamis (21/3) menghadirkan diskusi mendalam mengenai pewartaan Injil dalam konteks sejarah dan relevansinya di era modern.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, penulis buku Tri Budi Wibowo, Ketua Umum Pewarna Id Yusuf Mudjiono, dan Ketua Umum MUKI Jasarmen Purba.
Dalam pemaparannya, Pdt. Darwin Darmawan menyoroti metode pewartaan Injil yang dilakukan oleh Kiai Sadrach di abad ke-19. Ia menjelaskan bahwa Kiai Sadrach awalnya merupakan murid Kiai Tunggul Wulung di Semarang, yang kemudian mengembangkan metode adu ilmu dalam menyebarkan ajaran Kristen.
Dalam tradisi ini, seseorang yang kalah dalam debat keagamaan harus menjadi murid dari yang menang. “Di zaman sekarang, praktik seperti ini masih terjadi, tetapi dalam bentuk debat apologetika di media sosial. Bedanya, sekarang hampir tidak ada yang mau mengakui kekalahan,” ujar Pdt. Darwin.
Ia juga mengakui bahwa metode pewartaan Kiai Sadrach berhasil membawa banyak orang Jawa menjadi pengikut Kristus. Namun, ia menekankan bahwa situasi sosial-politik pada masa kolonialisme tidak bisa disamakan dengan kondisi saat ini.
Selain itu, ia menyoroti bagaimana Kiai Sadrach menghadapi tantangan dalam menjalankan sakramen sesuai dengan tata cara gereja resmi pada masa itu, yang membuatnya dianggap melakukan pelanggaran oleh gereja.
Penulis buku, Tri Budi Wibowo, menjelaskan bahwa buku ini merupakan hasil penelitian akademiknya di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Jakarta. Ia menyatakan bahwa karya ini tidak hanya sekadar kajian sejarah, tetapi juga refleksi teologis atas pelayanan gerejawi yang dilakukan Kiai Sadrach di Gereja Kristen Mennonite.
Salah satu poin utama dalam diskusi adalah konsep gerakan Mardiko yang diperkenalkan oleh Kiai Sadrach. Gerakan ini menekankan kemerdekaan rohani dan jasmani jemaatnya serta menolak anggapan bahwa Kristen adalah agama penjajah.
Baca Juga: Antusiasme Tinggi! PIK2 Ramadan Under The Dome Jadi Magnet Baru di Bulan Suci
“Kiai Sadrach melakukan pewartaan Injil dengan menyesuaikan konteks sosial masyarakat Jawa pada saat itu, tanpa harus mengikuti kultur yang dibawa oleh orang Eropa,” ujar seorang jemaat GITJ dalam diskusi tersebut, mengutip prinsip yang diambil dari 1 Korintus 9:20-23.
Ketua Umum Pewarna Id, Yusuf Mudjiono, menyampaikan bahwa penerbitan buku ini menjadi pengingat akan peran penting misionaris lokal dalam penyebaran Injil di Indonesia. Ia menyebut beberapa tokoh lain seperti Tunggul Wulung di Jawa dan Pontas Lumban Tobing di Tapanuli yang juga menginjili dengan pendekatan budaya.
"Mereka menginjili dengan pendekatan budaya. Menggunakan simbol, seni, dan ornamen lokal agar injil lebih diterima masyarakat," katanya.
Ketua Umum MUKI, Jasarmen Purba, menambahkan bahwa kekristenan berbasis budaya perlu dipertahankan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai iman Kristen. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia, Harsanto Adi, menyoroti dampak kolonialisme Belanda yang lebih berorientasi pada kekuasaan dibandingkan dengan penginjilan.
Artikel Terkait
Bupati Tatu Serahkan NPHD untuk PSU Pilkada Kabupaten Serang 2024
Gubernur Banten Andra Soni: Pemprov Komitmen Selesaikan Guru Honorer P1 dan R3 Database BKN
Hari Air Sedunia, Wali Kota Surabaya dan PAM Surya Sembada Ajak Masyarakat Jaga Kualitas Air Kali Surabaya
Menteri PKP Apresiasi Pengembang Perumahan Eternal Village Karawang harus Berkualitas dan Bebas Banjir
BPOM Tutup PT. Ratansha Purnama Abadi, Pabrik Kosmetik Skincare Bahan Berbahaya