NAWACITAPOST.COM - Di Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang terdapat sekitar 3000 warga binaan, mayoritas adalah pemuda produktif yang kebanyakan terjebak dalam masalah hukum karena alasan ekonomi.
Kebanyakan dari mereka merasa bingung tentang masa depan mereka setelah keluar dari lapas, terutama bagaimana kembali ke keluarga dan mencari pekerjaan.
"Saya sebagai inisiator pendiri Lembaga Ekonomi Umat (LEU) berinisiatif agar para narapidana ini memiliki keterampilan, baik formal maupun informal. Formalnya, mereka yang lulusan SMA dilatih untuk melanjutkan pendidikan hingga sarjana S1. Sedangkan pendidikan nonformal, mereka diajarkan keterampilan seperti menjahit dan kuliner," tutur Sutrisno, Pendiri LEU.
Selain itu, mereka juga diberikan pelatihan di bidang pertanian dan peternakan, sehingga ketika keluar dari penjara, mereka dapat mandiri dan tidak dianggap sebagai beban masyarakat. Inilah tujuan dari pelatihan keterampilan tersebut.
Baca Juga: Imigrasi Jakarta Barat Sediakan Layanan Walk-in Pembuatan Paspor, Ini Dia Prioritasnya!
"Selanjutnya, setelah mereka menyelesaikan pelatihan dan lulus, kami akan membantu mereka menjadi wirausaha dengan memberikan modal. Kami tidak hanya memberikan pendidikan dan pelatihan, tetapi juga membantu mereka untuk memulai usaha dengan harapan mereka tidak kembali ke perilaku negatif. Ini adalah tujuan kami, dan alhamdulillah mendapat dukungan dari Kementerian Hukum dan HAM. Kami berharap ini benar-benar menjadi program nasional," lanjutnya.
Salah satu warga binaan, Kretek, berbagi pengalamannya belajar membuat ayam goreng. Pengalaman ini memberinya modal untuk memulai usaha setelah bebas nanti.
"Tadi saya membuat fried chicken. Awalnya saya diajari oleh yang berpengalaman. Meskipun sulit pada awalnya, alhamdulillah sekarang saya sudah bisa melakukannya. Jika di luar, saya belum pernah memasak, ini pertama kalinya saya terjun langsung. Insyaallah Agustus nanti, saya akan berusaha membuka usaha sendiri," kata Kretek.
Narapidana lain juga menyatakan rencananya untuk membuka usaha setelah bebas dengan modal dan keterampilan yang didapat selama di lapas.
"Pagi tadi kami diajari membuat martabak dan pempek. Kami diajari mulai dari bahan-bahannya hingga cara memasaknya oleh chef. Ilmu yang didapat sangat bermanfaat dan saya berharap bisa membuka usaha setahun lagi," ujar Bule.