Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman, yang dikenal sebagai sosok tegas dan berani menurunkan spanduk dan baliho Rizieq Shihab. Itu, ia lakukannya saat ia menjabat Pangdam Jaya, pada November 2020.
Baca Juga : Kaum Radikal Panik, Jenderal TNI Dudung Abdurachman Didekati Parpol
Seiring berjalannya waktu, ia juga mampu berbicara secara akademis. Dudung resmi menyandang gelar Doktor dengan predikat Cumlaude, setelah lulus dari ujian promosi doktoralnya di Universitas Trisakti, Sabtu 11 Juni 2022.
Keputusan itu disampaikan Prof, Dr. Ir, Kadarsah Suryadi DEA, selaku Ketua sidang terbuka, dan Dr Yolanda Masnita Siagian, MM sebagai sekretaris sidang.
CIRR; Promor, Prof Dr Willy Arafah MM DBA; Co-promotor, Dr Kunadi MM; serta sejumlah anggota penguji lainnya.
Anggota penguji Prof Dr Farida Jasfar, ME, Phd; Prof Dr Zainal Effendi Berlian MM, Phd; penguji luar yakni Dr Ninik Rahayu SH, MS.
"Maka dengan ini diputuskan Dudung Abdurachman dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Selanjurnya kepadanya diberikan gelar doktor," kata Kadarsah di Univeristas Trisakti, Jakarta, pada Sabtu. Adapun para penguji sidang terbuka Dudung di antaranya Ketua Sidang, Prof Dr Ir Kadarsah Suryadi, DEA; Sekretaris Sidang, Dr Yolanda Masnita Siagian, MM,
Disertasinya bertajuk "Pengaruh Strategic Leadership Style dan Green Human Resource Management Terhadap Management Performance Kodam Jaya yang Dimediasi oleh Teamwork Management".
Ia berharap, hasil kajiannya itu dapat dimanfaatkan baik oleh jajaran TNI maupun masyarakat luas.
Dalam orasi ilmiahnya, Dudung mengatakan Strategic Leadership Style berpengaruh posisi terhadap management performance atau performa manajemen.
Ia kemudian mencontohkan pengalamannya, saat menjadi Panglima Kodam Jaya Mayjen TNI AD, ketika mengambil keputusan menurunkan spanduk dan baliho pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.
Bagi Dudung "Ciri pemimpin harus berani mengambil keputusan. Kalau keputusan itu benar berarti bagus, kalau salah berarti lebih bagus dari pada tidak ambil keputusan sama sekali," tuturnya.
Yang jelas, keberhasilan Dudung menyandang gelar Doktor, membuktikan bahwa, loper koran yang jadi jenderal ini, teori dan praktek tetap menjadi landasan bertindak dalam mengambil keputusan.
Lebih dari itu, ia tak pernah ragu-ragu membasmi kelompok anti (toleransi, radikalisme dan khilafah) di bumi Indonesia, yang pancasilais dan berbhineka tunggal ika.