Baca Juga : Tepat, Komandan yang Tegas kepada FPI dan Kelompok Intoleren – Radikal Jadi KASAD
Kunjungan ke kantor pusat Muhammadiyah ini. Merupakan bagian dari rencana Dudung merekrut lulusan pesantren untuk menjadi perwira TNI AD. Pasti, setelah ke Muhammadiyah juga berkunjung ke NU dan lembaga agama lainnya.
Jenderal yang telah mewakafkan tanah keluarganya untuk Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir di Klapanunggal Bogor, yang diasuh oleh Asy – Syaikh Muhammad Al – Khidhir.
Seperti dilansir kompas.com yang dimuat Minggu (12/12/2021) dengan judul : Kepada KSAD Dudung, Ketum Muhammadiyah Berpesan Jangan sampai Indonesia Pecah.
Selain itu keduanya juga membahas pentingnya persatuan nasional dengan cara merawat kebhinekaan yang ada. Ia pun berpesan ke Dudung untuk dapat menjaga persatuan sekaligus supaya Indonesia tidak terpecah. "Persatuan menjadi hal yang mutlak bagi masa depan Indonesia. Jangan sampai bangsa Indonesia pecah karena perbedaan-perbedaan yang tidak bisa kita dialogkan," ujar Haedar dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Minggu (12/12/2021).
Haedar mengungkapkan, Muhammadiyah dan TNI memiliki kesamaan pandangan bahwa kehidupan kebangsaan harus berpijak pada tiga nilai, yaitu Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa. Menurut dia, semua agama di Indonesia telah melewati berbagai proses panjang hingga menyatu dalam identitas ke-Indonesiaan.
Budaya dari luar harus kita seleksi mana yang baik dan mana yang tidak pas atau tidak sejalan dengan kebudayaan luhur bangsa, jangan menjadi pola hidup bangsa Indonesia, ucap Haedar masih dari laman muhammadiyah.or.id.
Kunjungan KSAD Jenderal Dudung ke Kantor PP Muhammadiyah sebenarnya memberi pesan kepada kelompok-kelompok intolerensi dan radikal, untuk tidak macam-macam dengan mengganggu ketentraman dan kenyamanan NKRI.
Perlu diketahui sebelum Haedar menjabat Ketum PP Muhammadiyah. Amien Rais dan Din Syamsuddin pernah bercokol di jabatan Haedar. Namun, pasca tak menjabat. Aroma sifaf aslinya anti pemerintah terutama ke Presiden Jokowi semakin kental melekat padanya.
Hal ini juga menegaskan bahwa Amien Rais dan Din Syamsuddin tak dianggap. Bahkan terlempar dan tak berkutik menghadapi KSAD Dudung.
Dudung yang dikenal dengan julukan Jenderal toleransi itu telah menanamkan rasa aman, nyaman, dan tertib bagi rakyat Indonesia. Untuk terus menumbuhkan kebhinenekaan dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945.