Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal Berbagai Tradisi Unik Merayakan Hari Raya Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Photo Author
Tantitamara, Nawacita Post
- Selasa, 5 Juli 2022 | 14:59 WIB
Tradisi Unik Merayakan Hari Raya Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia
Tradisi Unik Merayakan Hari Raya Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Jakarta, NAWACITAPOST.COM – Hari Raya Idul Adha atau Hari Qurban tentunya diperingati oleh setiap umat muslim yang ada di dunia salah satunya di Indonesia. Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 1 Zulhijah 1443 Hijriyah jatuh pada Jumat, 1 Juli 2022. Dengan ditetapkannya awal Zulhijah ini, maka Lebaran (Hari Raya Idul Adha) 1443 H jatuh pada Minggu, 10 Juli 2022.

Sementara itu, adanya Hari Raya Idul Adha ini juga diperingati di berbagai daerah dengan tradisi yang tentunya unik yang ada di masing-masing daerah yang ada di Indonesia sebagai ungkapan rasa suka cita menyambut Hari Raya yang satu ini. Mengutip dari Indonesia.Travel, berikut ini adalah berbagai tradisi unik merayakan Hari Raya Idul Adha di beberapa daerah di Indonesia yaitu:

  1. Manten Sapi – Pasuruan Jawa Timur


Manten sapi merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Pasuruan yang ada di Jawa Timur dengan tujuan menghormati hewan kurban yang akan disembelih. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada hewan kurban yang akan disembelih.

Menariknya, sapi yang hendak dikurbankan akan didandani secantik mungkin bak pengantin. Hewan tersebut juga dikalungkan bunga tujuh rupa, lalu dibalut dengan kain kafan, serban, dan sajadah. Pada tradisi ini, kain kafan menjadi tanda kesucian orang yang berkurban. Setelah didandani, semua sapi akan diarak menuju masjid setempat untuk diserahkan kepada panitia kurban. Yang lebih berkesannya lagi, daging sapi kurban ini biasanya  akan diolah dan disantap bersama-sama.

  1. Grebeg Besar/ Gunungan – Yogyakarta


Masyarakat Yogyakarta juga memiliki tradisi sendiri untuk merayakan Hari Raya Idul Adha, yaitu Grebeg Besar. Tradisi Grebeg Gunungan yang dirayakan oleh masyarakat Yogyakarta ini, sepintas hampir mirip dengan tradisi Apitan dari Semarang. Warga muslim Yogyakarta akan mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai Masjid Gede Kauman.

Arak-arakan hasil bumi ini berjumlah 3 buah gunungan yang tersusun dari rangkaian sayur-mayur dan buah. Di Yogyakarta, tradisi ini dilaksanakan setiap hari besar agama Islam. Grebeg Syawal dilaksanakan saat Idul Fitri, sedangkan tradisi Grebeg Gunungan dilaksanakan pada perayaan Idul Adha. Masyarakat setempat percaya, apabila berhasil mengambil hasil bumi yang disusun dalam bentuk gunungan, bisa mendatangkan rezeki.

  1. Kaul Negeri dan Abda’u – Maluku


Masyarakat Negeri Tulehu di Maluku Tengah juga memiliki tradisi Kaul Negeri dan Abda’u untuk merayakan Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat setempat setelah salat Idul Adha. Pada dasarnya, tradisi ini merupakan acara adat untuk menggendong tiga ekor kambing menggunakan kain yang dilakukan oleh para pemuka adat dan agama.

Lalu, kambing tersebut akan diarak mengelilingi desa sambil diiringi seruan takbir dan shalawat menuju masjid yang akan dijadikan tempat penyelembihan. Ada juga tradisi Abda’u yang merupakan merupakan tradisi merebut bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh ribuan pemuda di Desa Tulehu, Ambon dengan tujuan mempererat hubungan persaudaraan antar masyarakat setempat.

  1. Apitan – Semarang, Jawa Tengah


Ada juga masyarakat Semarang yang memiliki tradisi untuk merayakan Idul Adha, yaitu Apitan. Tradisi Apitan ini merupakan  bentuk rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan oleh Yang Maha Esa. Di Semarang, tradisi ini biasa diisi dengan pembacaan do’a yang dilanjutkan dengan arak-arakan hasil tani, ternak, dan nantinya hasil tani yang diarak ini akan diambil secara berebutan oleh masyarakat setempat.

Tradisi ini dipercaya menjadi kebiasaan para Wali Songo dulu sebagai bentuk ungkapan rasa syukur di perayaan Idul Adha. Tak hanya gunungan berupa hasil tani atau arak-arakan ternak, siapa pun yang menyaksikan tradisi Apitan ini juga akan disuguhkan dengan hiburan khas kearifan lokal.

Editor: Tantitamara

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini