Majalengka, NAWACITAPOST.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Majalengka yang menyasar hampir lebih dari 8.000 siswa, yang diketahui menghasilkan limbah.
Menyikapi hal itu, Pemerintah Kabupaten Majalengka telah mempersiapkan langkah untuk mengolah limbah tersebut agar bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Majalengka, Imam Firmansyah, saat dikonfirmasi dirinya menyampaikan pihaknya telah menyusun konsep pengelolaan limbah makanan dengan melibatkan Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon.
"Itu limbah tidak membahayakan karena limbah protein. Kami sudah berpikir dengan koordinasi dari Unswagati Cirebon ya. Di situ ada alat yang bagaimana menampung limbah-limbah dari pada makan gizi gratis, nantinya ke depan iItu diolah menjadi pakan untuk dimanfaatkan oleh peternakan, baik perikanan," ungkap Iman Firmansyah, Minggu (02/02/2025).
Menurutnya, dengan jumlah siswa yang besar di setiap desa bahkan hingga ribuan orang jumlah limbah yang dihasilkan cukup signifikan.
"Kalau misal sekarang di dalam satu desa, murid aja anggap 3000 orang.
3000 orang makan gizi gratis ya. Anggap aja 0, sekian gram yang terbuang. Kalikan berapa kilogram, banyak nantinya." tuturnya.
Dalam proses pengolahannya, dia menjelaskan rencananya akan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk implementasi di lapangan.
"Negara sudah menyediakan sarana seperti BUMDes di setiap desa. Tinggal memastikan fungsi BUMDes berjalan optimal, sehingga program ini dapat mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi," jelasnya.
Program MBG Sasar Ribuan Siswa di 18 Sekolah
Program MBG yang dibiayai melalui APBD 2025, Penjabat Bupati Majalengka Dedi Supandi akui telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5 miliar untuk memberikan makanan bergizi kepada 8.048 siswa di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, hingga SMP.
"Jumlah penerima manfaat program MBG ini tersebar di 18 lembaga pendidikan di wilayah Kecamatan Majalengka. Program ini mencakup satu PAUD, enam TK, tujuh SD, dan empat SMP baik negeri maupun swasta," ucapnya.
Dedi menjelaskan, SMPN 3 Majalengka menjadi sekolah dengan jumlah siswa terbanyak, yaitu 1.015 orang, diikuti SMPN 1 Majalengka dengan 920 siswa.
"Pihaknya juga memastikan bahwa pemberian menu makanan dalam program MBG dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN)," pungkaanya.(Defri Ardiansyah)