daerah

Bupati Blitar Membuka Workshop Penguatan Profil Pelajar Pancasila Kepala Sekolah dan Guru TK

Selasa, 20 September 2022 | 18:40 WIB
Foto dokumentasi Bupati Blitar bersama Kadis Pendidikan dan Peserta Workshop

Blitar, NAWACITAPOST.COM - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Blitar menggelar Workshop Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang dibuka langsung oleh Bupati Blitar Rini Syarifah, bertempat di gedung TK Al Hidayah Karangsono 1, Kecamatan Kanigoro, Selasa (20/9/2022).

Kegiatan Workshop Penguatan Profil Pelajar Pancasila, diikuti sebanyak 240 Kepala Sekolah dan Guru TK melalui Sekolah Sak Ngajine, Kegiatan Pembiasaan Berbahasa dan Berbudaya Jawa dan Permainan Tradisional.

Bupati Blitar Rini Syarifah mengatakan, berbagai peralatan canggih berbasis digital telah masuk kesemua lini, termasuk pada anak-anak kita yang masih PAUD maupun TK. Nah, dampak negatif dari gadget itulah yang harus diminimalisir agar tidak menjangkiti anak didik dari sejak usia dini.

-
Bupati Blitar Rini Syarifah ketika sambutan

"Melalui program kegiatan workshop ini Bupati mengenalkan program sekolah sak ngajine, pembiasaan budaya bahasa jawa maupun permainan tradisional. Guru-guru TK sangat antusias mendukung program kita, termasuk sekolah sak ngajine. Kita budayakan anak - anak ini sekolah sak ngajine tidak hanya ngaji kitab, tetapi kita beri pembelajaran etika, perihal perilaku dan budaya, kita tumbuhkan mulai hari ini,” kata bupati.

Termasuk juga kesenian atau permainan tradisional, agar guru mengenalkan kepada anak didiknya agar tidak terlalu bermain handphone atau gadget. Padahal dalam permainan tradisional yang juga merupakan aset warisan budaya ini tertanam nilai-nilai, seperti nilai sosial yang mengajarkan kekompakan, kerjasama, solidaritas, tolong menolong, hingga mampu menerima kekalahan.

“Selain itu, permainan tradisional juga melatih seseorang untuk mampu berpikir cepat dalam mengambil keputusan, logis, kritis, dan seimbang,” jelasnya.

-


Bupati Blitar Rini Syarifah menceritakan, tentang pengalaman menjadi seorang ibu mengajak anak - anaknya untuk berkomunikasi tidak sering bermain handphone, tetapi mengajak anak - anak dengan sebuah permainan tradisional.

“Secara tidak langsung, mengajak anak - anaknya dan mengajarkan permainan tradisional, dimana pemainnya membentuk fisik, mental, dan sekaligus kepribadiannya. Sehingga permainan tradisional sangat bagus untuk diterapkan pada anak usia dini," jelasnya.

Terakhir, Bupati Blitar Rini Syarifah mengatakan terkait Program Sekolah Sak Ngajine, Program ini bertujuan membantu membentuk pondasi iman dan taqwa supaya cita-cita demi mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yakni beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif segera terwujud.

-


“Oleh karena itu, saya minta setelah workshop hari ini kedepan harus diprogramkan setiap hari apa ada kegiatan-kegiatan tersebut. Kita berharap anak-anak kita, intelektual di akademiknya bagus tapi juga harus bagus di etika dan budi pekertinya,” harapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Luhur Sejati ditemui seusai acara mengatakan, workshop ini menindaklanjuti apa yang telah disampaikan Bupati Blitar pada hari ini. Usaha melawan dampak buruk gadget akibat pandemi sekian tahun lalu penggunaan gadget meningkat yang memberi pengaruh besar mengubah pola pikir anak.

“Upaya dan Ikhtiar pada hari ini tentunya akan menghasilkan anak - anak yang tidak akan lupa dengan budaya nasionalnya, tidak akan lupa jati diri bangsanya. Mohon maaf walau orang tua tidak pernah ngomong kotor, anak bisa tetap omong kotor dari meniru konten gadget yang suka mengumpat omongan kotor,” ujar Luhur.

“Nah itulah tantangan kita, kebetulan pondasi kita dari guru - guru TK dapat mencegah hal buruk itu dengan mengenalkan budaya - budaya asli kita sejak usai dini,” sambungnya.

Menurut Luhur, program workshop yang dipastikan bisa berjalan lancar tidak menemui kendala, dimana telah digagas oleh Bupati Blitar. Dimana program ini tidak memerlukan banyak sarana dan prasarana tambahan dalam melaksanakannya.

“Permainan tradisional seperti egrang batok, rangka alu, atau dakon sudah ada alat-alatnya di sekolah dan bisa diterapkan pada pelajaran olahraga. Sehingga menurutnya bisa dilakukan atau dilaksanakan dengan mudah tanpa kendala," jelasnya.

Terakhir, Kadis Pendidikan Kabupaten Blitar Luhur mengatakan, berjalannya program dengan baik, bergantung kepada kreatifitas guru dalam mengemas pada pembelajaran disekolah pada pembelajaran ngaji maupun pembiasaan budaya dan permainan tradisional.

“Berharap dengan permainan tradisional seperti dakon mempunyai keunggulan melatih literasi dan numerasi anak - anak. Tinggal kreativitas guru mengemasnya, juga dukungan dari orang tua siswa," pungkasnya.

Penulis : Frins Maurins

Tags

Terkini