daerah

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto meresmikan kantor Bank Sampah PJM Green RW 07, Pondok Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati. Peresmian ini menjadi momentu

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:33 WIB
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto saat peresmian Bank Sampah PJM Green

NAWACITAPOST.COM – Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, meresmikan kantor Bank Sampah PJM Green di RW 07, Pondok Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati. Peresmian ini menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus meningkatkan partisipasi warga dalam mengurangi timbulan sampah sejak dari rumah tangga.

Bank Sampah PJM Green menjadi salah satu contoh tumbuhnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Sejak mulai bergerak pada 2003, bank sampah ini awalnya hanya memiliki 10 nasabah dengan volume sampah terkumpul sekitar 19 kilogram. Seiring berjalannya waktu, jumlah nasabah meningkat menjadi 80 orang, dengan volume sampah yang dikelola mencapai lebih dari satu ton.

Baca Juga: Gebyar Harkop ke-79, Pemkot Bekasi Dorong Koperasi Lebih Modern dan Inovatif Libatkan Generasi Muda

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis lingkungan dapat memberikan dampak nyata apabila didukung keterlibatan masyarakat secara aktif dan berkelanjutan. Kebiasaan memilah sampah, mengumpulkan material yang masih memiliki nilai ekonomis, serta mengolah sampah organik menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap keluarga.

Dalam kesempatan tersebut, Tri Adhianto menegaskan pentingnya membangun budaya memilah sampah dari rumah serta memperkuat peran bank sampah di tingkat rukun warga (RW). Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengurangi beban pengelolaan sampah di Kota Bekasi.

Pemilahan sampah, lanjutnya, harus menjadi kebiasaan sehari-hari. Sementara itu, pemerintah berperan memberikan sosialisasi, pendampingan, dan mendorong keterlibatan warga agar gerakan pengelolaan sampah dapat berjalan secara konsisten.

Pemerintah Kota Bekasi juga mendorong penguatan program pengelolaan lingkungan menuju 2028. Sejumlah langkah yang menjadi perhatian di antaranya pengembangan bank sampah, optimalisasi lubang biopori, serta pengolahan sisa makanan dan sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Selain pengurangan sampah dari sumbernya, keberadaan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) diharapkan menjadi bagian dari upaya penanganan persoalan sampah perkotaan. Fasilitas tersebut disebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton per hari. Namun, pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga dan lingkungan tetap diperlukan untuk menekan volume sampah yang harus ditangani di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST).

Walikota Bekasi

Karena itu, penguatan bank sampah di setiap RW dinilai penting sebagai salah satu upaya mengurangi timbulan sampah sejak awal. Warga diharapkan semakin terbiasa memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, memanfaatkan kembali barang yang masih dapat digunakan, serta mengolah sampah organik melalui pengomposan maupun pemanfaatan lubang biopori.

Tri Adhianto juga mengajak para pengurus RW untuk terus bergerak dan memperkuat keberadaan bank sampah di wilayah masing-masing. Menurutnya, kemajuan kota dalam menjaga kebersihan lingkungan harus dimulai dari kedisiplinan masyarakat dalam mengelola sampah di rumah.

Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan komitmen bersama dari seluruh lapisan masyarakat. Perubahan perilaku yang dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat diharapkan dapat membangun budaya hidup bersih sekaligus menciptakan Kota Bekasi yang lebih tertata dan berkelanjutan.

Peresmian kantor Bank Sampah PJM Green diharapkan dapat meningkatkan kualitas operasional, memperluas partisipasi nasabah, serta menjadi ruang kolaborasi bagi warga dalam mengembangkan berbagai inisiatif pelestarian lingkungan.

Perjalanan PJM Green, dari 10 nasabah dengan 19 kilogram sampah hingga berkembang menjadi 80 nasabah dengan volume pengelolaan lebih dari satu ton, menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat berawal dari langkah kecil di lingkungan masyarakat. (Ndoet)

Halaman:

Tags

Terkini