NAWACITAPOST.COM – Dugaan pelecehan seksual yang terjadi di dalam bus di Surabaya memantik reaksi keras dari DPRD Kota Surabaya. Aksi pelaku yang nekat berbuat di ruang publik, bahkan di tengah bus yang dipenuhi penumpang, dinilai sebagai sinyal bahaya yang tidak boleh dianggap sepele.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, menyampaikan keprihatinannya. Menurutnya, keberanian pelaku menunjukkan lemahnya rasa aman di transportasi umum, khususnya bagi perempuan dan anak.
Ironisnya, meski pelaku sudah diamankan di Polsek Genteng setelah sempat diamuk massa, proses hukum justru tersendat. Hingga kini, status pelaku belum bisa dinaikkan menjadi tersangka lantaran belum adanya laporan resmi dari korban.
“Kami berharap pelaku bisa diproses hukum supaya ada efek jera. Sayangnya, informasi dari Polsek menyebutkan status pelaku belum bisa jadi tersangka karena belum ada laporan dari korban,” ujar Imam, Kamis (8/1/2026).
DPRD Siap Dampingi, Korban Diminta Tak Takut
Politisi partai Nasdem ini secara tegas mendorong korban, termasuk orang tua korban jika masih di bawah umur, untuk tidak ragu melapor.
Ia menegaskan bahwa korban tidak akan dibiarkan berjuang sendirian.
Pendampingan, kata dia, siap diberikan baik secara pribadi maupun melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Surabaya.
“Korban tidak perlu malu. Kalau mau minta didampingi, saya siap. Atau jika ingin lebih nyaman, kami koordinasikan dengan DP3A. Di sana ada psikolog yang siap memberikan pendampingan jika ada trauma psikologis,” tegasnya.
Tak hanya itu, Imam bahkan menawarkan skema pemeriksaan yang lebih humanis. Korban tidak harus datang ke kantor polisi jika merasa tidak nyaman.
“Biar pihak kepolisian dan DP3A yang datang ke tempat korban. Yang penting ada keterangan, saksi, dan alat bukti yang cukup agar status pelaku bisa naik jadi tersangka,” imbuhnya.
Alarm Keras untuk Operator Bus dan Pemkot
Di luar persoalan hukum, Imam melontarkan peringatan keras kepada Pemkot Surabaya dan operator Bus Surabaya. Ia menilai insiden ini sebagai alarm serius terkait keselamatan penumpang.
“Ini peringatan karena pelaku sudah berani bergentayangan di angkutan umum pada jam ramai. Kami minta keselamatan dan kenyamanan di semua angkutan umum, terutama Bus Surabaya, ditingkatkan,” katanya.
Imam mengingatkan, pembiaran terhadap kasus serupa bisa berdampak panjang. Bukan hanya mencederai rasa aman warga, tetapi juga merusak citra Surabaya sebagai kota ramah perempuan dan anak.
“Jangan sampai penumpang jadi takut naik bus. Kita harus pastikan Surabaya tetap aman agar tidak ada lagi kejadian yang bisa membuat orang takut datang ke kota ini,” pungkasnya. ***